Tanah Warisan 078
25 Oktober 2001, Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Siang hari tidak akan berani
berdiri di depan rumah itu. Kalau Temunggul melihatnya, maka hal itu pasti
akan menjadi persoalan yang berlarut-larut. Namun sejenak kemudian tiba-tiba Bramanti itu melenting dan bersembunyi
di balik dinding halaman rumah Ratri itu. Ia mendengar langkah yang
semakin lama menjadi semakin dekat.
Bramanti menarik keningnya. Di dalam keremangan cahaya lampu regol
halaman ia melihat dua orang berhenti di regol itu. Ternyata mereka adalah
Temunggul dan ayah Ratri.
Dada Bramanti menjadi berdebar-debar karenanya. Dan sejenak kemudian ia
mendengar ayah Ratri berkata, “Terima kasih ngger. Kau sudah mau
bersusah payah mengantarkan aku sampai ke rumah.”
“Ah,” jawab Temunggul. “Itu termasuk tugasku paman.”
“Ya, tugasmu adalah tugas yang sangat berat,” ayah Ratri berhenti
sejenak, kemudian, “Eh, tetapi, tetapi, meskipun tugasmu sudah berat, aku
masih minta kau membantu mengawasi Ratri. Aku percaya kepadamu ngger.
Meskipun kau gagal mengalahkan Wanda Geni, tetapi aku kira kau adalah
orang yang paling kuat di Kademangan ini selain Ki Jagabaya dan Ki Demang.
Kalau aku tidak mempercayakan Ratri kepadamu, maka orang-orang lain
pasti akan lebih tidak dapat dipercaya lagi.”
Wajah Temunggul tertunduk karenanya, “Terima kasih atas kepercayaan itu
paman.”
“Kalau bukan kau yang harus menjaganya, siapa lagi,” berkata ayah Ratri
seterusnya.
“Terima kasih paman.”
“Nah, selamat malam. Mudah-mudahan dalam menunaikan tugasmu, kau jangan
lengah. Kau akan dapat menjadi orang terbesar di Kademangan ini.”
Temunggul tersenyum, katanya, “Betapapun besarnya, tetapi aku tidak
akan dapat menjadi orang terbesar di Kademangan ini.”
“Sudah tentu ngger. Tetapi, apabila wahyu memang ingin berpindah dari
satu keturunan ke keturunan yang lain, apakah sulitnya. Lihatlah, suami
pertama Nyi Pruwita. Bukankah ia seorang Demang yang disegani? Tetapi
ia mati selagi anaknya masih kecil.”
“Bramanti?”
“Bukan. Anak suaminya yang pertama bernama Panggiring.”
“O, ya Panggiring.”
“Ayah Panggiring adalah seorang Demang. Demang dari Kademangan ini.
Tetapi nasibnya tidak terlampau baik. Ia mati, dan sepeninggalannya
istrinya kawin lagi. Dan lahirlah Bramanti. Tetapi agaknya semakin besar
semakin terasa oleh Panggiring bahwa ayahnya terlampau keras dan kasar
kepadanya, sehingga akhirnya ia pergi. Maka kemudian ibunya pun harus
mengalami kematian suaminya untuk kedua kalinya. Bukankah kau pernah
mendengarnya juga?”
Temunggul tidak segera menjawab. Sesaat ia mengangguk-angguk. Namun
sementara itu dada Bramanti terasa menjadi sesak. Ternyata ayah Panggiring
dahulu adalah seorang Demang.
“Persetan,” ia menggeram. “Namun sekarang, aku adalah anak ibu
satu-satunya. Panggiring telah pergi tanpa bekas.” Namun meskipun demikian,
pembicaraan itu menjadi perhatiannya juga. Dan ia mendengar ayah Ratri itu
berkata, “Nah, setelah Demang itu meninggal, anak laki-lakinya masih
terlampau kecil dan bahkan kemudian hilang tidak ada beritanya, maka di
angkat lagilah Demang yang sekarang ini.”
Temunggul mengerutkan keningnya. Kepalanya terangguk-angguk. Namun ia
masih tetap berdiam diri sambil menundukkan kepalanya. (Bersambung)-m
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 377 Views





Leave a Reply