Tanah Warisan 079
26 October 2001, “Sayang istrinya kawin lagi dengan seorang laki-laki yang bernama
Pruwita itu,” berkata ayah Ratri seterusnya, “Sehingga akhirnya Janda
Pruwita pun termasuk orang yang kita hormati di Kademangan ini. Bahkan hampir saja ia terpilih untuk menggantikan Demang yang meninggal itu. Tetapi semakin lama kelakuannya menjadi semakin buruk, sehingga pada suatu
ketika ia terpaksa mengalami nasib yang mengerikan itu. Bukankah kau
ingat?”
Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya, aku hanya
ingat apa yang terjadi. Tetapi aku tidak banyak mengerti.”
“Aku hanya ingin mengatakan, bahwa pada suatu saat, kedudukan Demang
dapat bergeser dari garis keturunan.”
Temunggul menarik nafas dalam-dalam.
“Ah,” ayah Ratri berdesah. “Aku berbicara terlampau banyak. Selamat
malam. Apakah kau akan singgah ke rumahku?”
“Terima kasih paman. Besok aku akan datang.”
“Kami, seisi rumah menunggu kedatanganmu dengan senang hati.”
“Terima kasih. Aku kini minta diri.”
Temunggul pun kemudian melangkah perlahan-lahan meninggalkan regol
halaman rumah Ratri. Ketika ia berpaling, regol itu telah tertutup kembali
dan ayah Ratri pun telah hilang ditelan pintu yang telah merapat itu.
Kini, tinggallah Bramanti merenung di balik sebatang gerumbul perdu
yang rimbun. Tanpa disadarinya, ia telah dicengkam oleh ceritera ayah
Ratri.
“Ayah Panggiring itu dahulu seorang Demang,” desisnya. “Tetapi ayahku
pun seorang yang berpengaruh pada mulanya, meskipun akhirnya ia
seakan-akan sama sekali tidak berharga.”
Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia terpukul oleh akibat
kelakuan ayahnya. Namun sekali lagi ia memantapkan tekadnya, “Aku
harus membersihkan nama ayah dan keluargaku. Aku harus berbuat baik,
sebaik-baiknya untuk Kademangan ini. Dengan demikian orang akan melupakan apa
yang telah terjadi dan apa yang telah dilakukan ayah.”
Dan tiba-tiba Bramanti itu pun sadar, bahwa kini ia berada di halaman
rumah Ratri. Karena itu, maka ia pun kemudian berdiri dan dengan
lincahnya meloncat dinding halaman. Dengan tergesa-gesa ia melangkahkan
kakinya, pulang ke rumahnya. Tetapi ia tidak masuk ke dalam biliknya. Ia
langsung pergi ke kandang dan membaringkan dirinya di atas jerami kering.
Sementara itu Temunggul pun sedang melangkahkan kakinya pulang ke
rumahnya. Sekilas-kilas teringatlah olehnya ceritera ayah Ratri tentang
Demang Candi Sari sebelum Demang yang sekarang. Tetapi ternyata ia sudah
tidak begitu ingat apa yang telah terjadi saat itu.
Meskipun umurnya lebih tua sedikit dari Bramanti, tetapi ia tidak dapat
mengingat dengan jelas, siapakah ayah Panggiring itu, dan apakah yang
pernah terjadi atasnya. Ia hanya ingat, bahwa Panggiring dan Bramanti
adalah dua orang bersaudara seibu, tetapi tidak seayah. Ia hanya ingat,
bahwa ayah Ratri tidak begitu senang kepada Panggiring, sehingga anak
itu kemudian pergi tanpa diketahui kemana.
“Ah, apa urusanku dengan mereka-mereka,” akhirnya Temunggul menggeram,
“Aku sama sekali tidak berkepentingan, kecuali kalau Bramanti akan
mengganggu Ratri, atau membuat kisruh di Kademangan ini karena dendamnya
atas kematian ayahnya.”
Dan Temunggul pun kemudian berusaha untuk melupakannya. Ia berjalan
semakin cepat, menembus gelapnya malam lewat lorong-lorong di
padukuhannya.
“Aku harus ketemu dengan Ratri sendiri pada suatu ketika,” ia berdesis.
“Agaknya aku tidak akan mengalami kesulitan dengan orang tuanya, asal
Ratri sendiri tidak berkeberatan.”
Dengan demikian maka Temunggul pun kemudian mencoba mereka-reka, apakah
yang sepantasnya dikatakan kepada Ratri apabila ia mendapat
kesempatan. Kesempatan yang ditunggu-tunggunya, ketika Kademangan ini mengadakan
keramaian telah dirusakkan oleh Wanda Geni dengan orang-orangnya.
(Bersambung)-m
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 520 Views





Leave a Reply