Tanah Warisan 080
27 Oktober 2001, Malam itu Temunggul hampir tidak dapat tidur sekejappun. Ia selalu
dibayangi oleh harapan-harapan dan kecemasan-kecemasan. Ia belum dapat
meyakinkan sikap Ratri kepadanya. Apalagi setelah ia gagal mempertahankannya, dan hadirnya seorang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar.
Tetapi, betapa dadanya bergelora, maka ketika di ujung Timur membayang
warna-warna merah, Temunggul itu pun justru terlena dipembaringannya.
Pada saat yang bersamaan, Bramanti yang terbaring di atas jerami
kering, membukakan matanya. Perlahan-lahan ia bangkit sambil menggeliat. Ia
pun hanya dapat tidur sekejap, karena pikirannya pun menjadi kalut oleh
berbagai macam persoalan.
Kemudian ia bangkit dan melangkah keluar. Ia mengerutkan keningnya
ketika ia melihat api di dapur sudah menyala. Agaknya ibunya bangun lebih
pagi daripadanya.
Bramanti itu pun segera pergi ke sumur untuk mengambil air. Kemudian
membersihkan diri dan melakukan kewajibannya mendekatkan diri kepada
Tuhannya.
Seperti biasanya, maka Bramanti pun kemudian mengambil sapu lidi untuk
membersihkan halaman rumahnya. Halaman yang cukup luas itu, sehingga
setiap pagi ia memerlukan waktu yang cukup lama untuk melakukannya. Sejak
matahari belum terbit, sampai terasa ujung panasnya menyentuh kulit.
Namun hari itu Bramanti tampak agak lain dari kebiasaannya sehari-hari.
Wajahnya nampak murung, dan kerjanya pun agak lebih lambat. Setiap
kali ia berhenti dan merenung, memandang kekejauhan. Apalagi kemudian
disadarinya bahwa ia sedang menggenggam tangkai sapu lidi, maka segera ia
melakukan tugasnya pula.
Ternyata Bramanti masih merasa terganggu oleh ceritera ayah Ratri
tentang ayahnya, tentang ibunya dan tentang Demang Candi Sari yang lama,
ayah Panggiring. Pengertiannya yang pendek tentang keluarganya itu telah
membuatnya mereka-reka. Apakah yang sebenarnya telah terjadi. Tetapi
sudah tentu ia tidak akan sampai hati bertanya kepada ibunya. Sebab dengan
demikian ia pasti akan melukai hatinya.
Karena itu maka disimpan sajalah pertanyaan-pertanyaan itu di dalam
dadanya, sampai pada suatu saat ia mendengar dari siapapun juga, karena
keadaannya kini masih belum memungkinkan untuk mencari kelanjutan dan
permulaan dari ceritera ayah Ratri tentang keluarganya itu.
Demikian besar pengaruh ceritera itu dihatinya, sehingga ia kehilangan
segala macam gairah. Ia sama sekali tidak mempunyai selera untuk makan.
Meskipun demikian ia tidak mau membuat ibunya menjadi bertanya-tanya.
Dipaksanya juga untuk menyuapi mulutnya pada waktu makan.
(Bersambung)-o
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 1,228 Views





on November 11th, 2011 at 7:12 am Said:
My wife and i were really fulfilled when Albert managed to round up his web research through the precious recommendations he obtained through your web page. It’s not at all simplistic to just happen to be releasing helpful tips that many the others have been making money from. We take into account we have the website owner to appreciate because of that. These explanations you made, the easy website navigation, the friendships you can make it possible to foster - it’s got many superb, and it is letting our son in addition to the family reckon that the article is thrilling, and that is unbelievably indispensable. Many thanks for all the pieces!