Tanah Warisan 094

10 Nopember 2001,  Dalam kekalutan pikiran itulah, ia kemudian membaringkan dirinya.
Meskipun ia tidak tertidur, tetapi ia menjadi terkejut ketika disadarinya,
bahwa matahari telah menjadi terlampau rendah.

Tanah Warisan 093

09 Nopember 2001,  “Terima kasih Ki Tambi,” gumam Nyai Pruwita. “Aku sudah mendengar berita tentang anakku. Apapun yang telah terjadi atasnya, namun aku telah
mengetahuinya.”

Tanah Warisan 092

08 Nopember 2001,  “Dalam perjalananku, suatu ketika aku bertemu dengan segerombolan penyamun. Betapapun aku mencoba melawan, namun aku sama sekali tidak berdaya.

Tanah Warisan 091

07 November 2001,  Bramanti menundukkan kepalanya. Ia menyesal sekali, bahwa ia telah membuat ibunya menjadi semakin pedih. Tetapi ia tidak dapat mengingkari
perasaannya sendiri.

Tanah Warisan 090

06 Nopember 2001,  “Entahlah, bagaimana asal mulanya Nyai. Panggiring di daerah pesisir Utara benar-benar menjadi hantu yang menakutkan.

Tanah Warisan 089

05 Nopember 2001, Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya wajah perempuan tua itu. Kemudian katanya dalam nada berat, “Nyi Pruwita.

Tanah Warisan 088

04 Nopember 2001,  Ki Tambi mengerutkan keningnya. Sejenak dipandanginya Bramanti, dan sejenak kemudian ibunya.  “Benarkah?” desak ibu Bramanti itu.

Tanah Warisan 087

03 Nopember 2001,  “Jadi Ki Tambi telah merantau lebih dari lima tahun,” bertanya ibu
Bramanti.  “Tujuh tahun,” sahut Ki Tambi.

Tanah Warisan 086

02 Nopember 2001,  Tetapi perempuan tua itu tahu jauh lebih banyak dari Bramanti, apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan kini yang dapat dilakukannya hanyalah
menarik nafas dalam-dalam.

Tanah Warisan 085

01 Nopember 2001,  RATRI pun kemudian melangkah meninggalkannya. Ia berjalan searah dengan Panjang. Tetapi kemudian Ratri berbelok ke jalan sempit menuju ke
rumah kawannya.