Tanah Warisan 081

28 Oktober 2001,  NAMUN sebagai seorang ibu, ternyata perempuan tua itu merasakan sesuatu yang tidak wajar di dalam hati anaknya. Mula-mula ia menyangka, bahwa Bramanti terlampau banyak bangun di malam hari, sehingga tubuhnya menjadi lemah. Tetapi ternyata ia keliru. Wajah yang muram dan sikap yang murung, bukanlah sekadar akibat dari kurang tidur saja.

Karena itu, maka ibunya pun mencoba bertanya kepada anak muda itu
sehabis makan, “Apakah kau sakit Bramanti?”
Bramanti menggelengkan kepalanya sambil menyahut, “Sama sekali tidak
ibu. Kenapa? Apakah wajahku pucat seperti orang sakit?”
“Kau tampak murung dan muram seharian ini.”
Bramanti tersenyum. Jawabnya, “Aku kurang tidur semalam ibu. Aku
menganyam keranjang. Tanpa aku sadari ternyata hari hampir pagi.”
Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia tidak mempercayainya
sepenuhnya, namun orang tua itu tidak bertanya lagi kepada anaknya.
Sejenak kemudian Bramantilah yang berbicara, “Karena itu, aku akan
beristirahat. Kalau mungkin aku akan tidur di kandang, supaya aku dapat
menjadi segar lagi.”
Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tidurlah.”
Bramanti pun kemudian pergi ke kandang di halaman rumahnya. Segera ia
membaringkan dirinya di atas setumpuk jerami. Namun ternyata ia sama
sekali tidak tidur. Sambil mengejap-ngejapkan matanya ia merenungi dirinya
sendiri dan seluruh keluarganya. Tetapi ia tidak dapat mengambil
kesimpulan apapun. Namun kadang-kadang terbersit pula pertanyaan di dalam
dirinya, “Dimanakah sekarang kakang Panggiring itu?”
Bramanti sendiri tidak mengerti, kenapa ia mengharap bahwa kakak
seibunya itu untuk seterusnya tidak akan pulang kembali ke Kademangan. Sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya ia bergumam, “Aku kurang mengenalnya
dari dekat, sebab sejak aku mulai menyadari keadaanku, kakang Panggiring
telah pergi.”
Untuk selanjutnya, Bramanti berusaha meletakkan persoalan itu dari
pikirannya. Ia ingin melupakan semuanya, “Sekarang,” katanya di dalam hati.
“Bagaimana aku mengatasi persoalan sendiri.”
Bramanti terkejut ketika ia melihat sebuah kepala tersembul dari bilik
dinding kandangnya yang kosong. Sambil bangkit Bramanti itu bergumam,
“Huh, kau membuat aku terkejut Panjang.”
Panjang tersenyum, jawabnya, “Benar juga kata Temunggul. Kau
benar-benar anak cengeng yang mudah terkejut dan mudah merengek.”
Bramanti tersenyum. Katanya, “Masuklah.”
“Gatal,” sahut Panjang.
“Tidak. Kandang ini sudah lama sekali tidak dipergunakan. Apalagi sejak
aku perbaiki. Aku timbun jerami yang bersih di dalamnya, dan aku
selalu tidur di kandang ini. Siang dan malam. Hanya dalam keadaan khusus
saja aku tidur di dalam rumah.”
Panjang pun kemudian melangkah masuk dan duduk di samping Bramanti.
“Kau semalam tidak pergi ke Kademangan Bramanti?”
“Ada apa di Kademangan?” ia bertanya.
“Banyak orang yang datang ke Kademangan semalam, termasuk aku dan
kawan-kawan anggota pengawal.
“Temunggul?”
“Temunggul juga pergi ke Kademangan.”
“Kapan ia pulang?”
“Hampir tengah malam.”
“Sendiri?”
Panjang menggelengkan kepalanya, “Tidak. Ia mengantar ayah Ratri lebih
dahulu, karena ayah Ratri juga berada di Kademangan.”
“Kenapa kalian berkumpul? Apa akan ada penerimaan anggota baru lagi?”
“Apakah kau berhasrat untuk menjadi anggota pengawal?”
Bramanti menggelengkan kepalanya, “Bagaimana aku dapat melampaui
pendadaran yang begitu berat. Apalagi untuk berkelahi melawan harimau.”
Panjang tidak segera menjawab. Dipandangnya saja wajah Bramanti, hingga
sesaat lamanya. Setiap ia teringat kepada sepasang harimau itu, maka
ia selalu disentuh oleh perasaan aneh terhadap Bramanti. Namun ia tidak
dapat memaksanya untuk menyebut dirinya sebagai seorang penyelamat dan
penolong.
Panjang itu mengangkat kepalanya ketika ia mendengar Bramanti bertanya,
“Kenapa kalian berkumpul di Kademangan semalam?”
“Ada seseorang yang kami temui.”
“Siapa?”
“Seorang yang termasuk tetua Kademangan ini. Sudah beberapa tahun ia
merantau. Kini ia kembali. Karena itulah, maka kami telah menerimanya di
Pendapa Kademangan. Kami ingin mendengar ceritera atau setidak-tidaknya
yang sudah ditempuhnya.”
Ceritera itu pasti menarik. Tetapi siapakah orang itu? Mungkin aku
telah mengenalnya atau setidak-tidaknya mengenal namanya.
“Tentu, kau tentu sudah mengenalnya. Namanya Tambi. Ki Tambi.”
(Bersambung)-o

Leave a Reply