Tanah Warisan 082

29 Oktober 2001,  “OH” Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku sudah mengenalnya. Ia termasuk orang dekat dengan keluarga kamu.” “Ya. Ia pun mengatakannya.”
“Kemana Ki Tambi selama ini merantau?”
“Ia telah menjelajahi pulau ini dari ujung sampai ke ujung. Ia telah
sampai ke ujung Timur, Banyuwangi. Dan ia pun telah sampai ke ujung
sebelah Barat, Banten.”
“Bukan main,” Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah yang
menarik menurut ceriteranya.”
“Biasa. Perjalanan, lapar, haus, perkelahian dan segala macam
peristiwa. “Panjang terdiam sejenak, lalu.”
“Apa?”
“Ki Tambi ternyata telah bertemu dengan Panggiring.”
“He,” berita itu benar-benar telah mengejutkan Bramanti. Sehingga
kemudian dengan serta merta ia bertanya, “Dimana Ki Tambi bertemu dengan
Panggiring?”
Panjang menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Ki Tambi tidak mau
mengatakannya semalam. Ia ingin bertemu dengan ibumu lebih dahulu. Baru
kemudian ia tidak akan merahasiakan lagi pertemuannya dengan Panggiring
apabila tidak akan terjadi sesuatu atas keluargamu.”
Dada Bramanti menjadi kian berdebar-debar. Karena ceritera tentang
Panggiring itulah agaknya, maka semalam ayah Ratri telah
menyinggung-nyinggungnya pula.
“Tetapi apakah Ki Tambi sama sekali tidak mengatakan apapun tentang
kakang Panggiring?”
“Sama sekali tidak. Bahkan atas pertanyaan Ki Demang pun Ki Tambi
menggeleng. Ia harus bertemu dengan ibumu lebih dahulu.”
Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk menenangkan hatinya
yang tiba-tiba saja telah bergolak.
Selama ini ia berusaha untuk menyingkirkan masalah Panggiring dari
lingkungan keluarganya untuk diketemukan kembali.
Bramanti menggelengkan kepalanya tanpa sesadarnya. Tiba-tiba ia
berdesah di dalam hatinya. “O, ternyata aku pun adalah seorang yang tamak.
Kenapa aku tidak menyukai kakang Panggiring? Ia adalah saudara seibu,
meskipun berbeda ayah. Agaknya aku sudah dipengaruhi oleh kebencian ayahku
kepadanya. Sudah tentu, bahwa kebencian ayah kepada kakang Panggiring
sedikit banyak dipengaruhi oleh hubungan keluarga di antara mereka.
Kakang Panggiring adalah anak tirinya.”
“Hari ini Ki Tambi pasti akan menemui ibumu. Dan kau akan mendengar
berita tentang kakakmu. Mudah-mudahan berita itu menggembirakan keluargamu
yang kini tinggal tiga orang itu. Bukankah begitu?” tiba-tiba Panjang
berbicara memutus angan-angannya.
“Mudah-mudahan,” jawab Bramanti. Namun nada suaranya ternyata terlampau
dalam.
“He, kenapa kau?” tiba-tiba Panjang bertanya. “Apakah kau menjadi
bersedih? Seharusnya kau menjadi gembira dan apalagi ibumu. Ibumu telah
kehilangan kedua anak laki-lakinya. Kau ternyata kembali lebih dahulu dan
agaknya Panggiring pun akan menyusul.”
“Ya, aku akan gembira sekali.”
“Tetapi nada suaramu tidak mengatakan demikian.”
Bramanti menarik nafas dalam-dalam. “Sudah tentu kami, maksudku aku dan
ibuku akan bergembira menerima kedatangannya. Tetapi secara jujur aku
harus mengatakan, bahwa hubungan yang mengikat antara kami berdua, aku
dan kakang Panggiring, sama sekali tidak terasa.”
“Ya, Panggiring pergi terlampau lama. Jauh lebih dahulu dari kau
bukan?”
“Itulah agaknya yang menyebabkan, bahwa aku merasa seolah-olah itu
tidak mempunyai seorang saudara.”
Panjang mengerutkan keningnya. Dari beberapa orang dan dari sekadar
ingatan ia mengerti, bahwa ayah Panggiring telah meninggal. Kemudian
ibunya kawin lagi dengan ayah Bramanti. Ia mendengar rerasan beberapa orang
tua-tua semalam, bahwa ayah Bramanti itu seolah-olah telah mengusir
anak tirinya. Tetapi apakah sebabnya, tidak ada seorang pun yang dapat
mengatakannya dengan tepat. Ada yang mengatakan bahwa Panggiring memang
anak bengal, tetapi ada pula yang mengatakan bahwa ayah Bramanti
terlampau keras terhadap anak tirinya.
“Yang paling mengetahui adalah keluarganya sendiri,” berkata Panjang di
dalam hatinya. “Terutama ibunya.”
“Tetapi,” berkata Panjang kemudian kepada Bramanti. “Kau akan segera
mendengar kabar itu,” Panjang terdiam sejenak, lalu “Ah, agaknya aku akan
terlampau lama singgah di kandangmu. Aku harus pergi ke Kademangan.
Aku tadi hanya singgah sebentar untuk memberitahukan kedatangan Ki Tambi
kepadamu. Mungkin ibumu perlu kau beritahu sebelumnya, supaya ia dapat
bersiap-siap menerima berita tentang anak sulungnya itu.”

Leave a Reply