Tanah Warisan 083

30 Oktober 2001,  BRAMANTI mengangguk-anggukkan kepalanya. “Terima kasih Panjang. Aku akan menyampaikannya kepada ibu, bahwa Ki Tambi akan menemuinya dan berbicara tentang Panggiring.”“Baiklah, sekarang aku minta diri. Aku akan pergi ke Kademangan. Para
anggota pengawal harus berkumpul. Mungkin akan mendapat beberapa
penjelasan dari Ki Demang. Atau mungkin ada keperluan lain.”
“Terima kasih atas pemberitahuan itu Panjang.”
“Ah, jangan terlampau banyak berterima kasih. Sudah beberapa kali kau
mengucapkannya.”
Mau tidak mau Bramanti pun tersenyum sambil berdiri. Di antarkannya
tamunya sampai ke regol halaman. Tetapi ketika ia ingin mengatakan
sesuatu. Panjang mendahuluinya, “Jangan berterima kasih lagi.”
Sekali lagi Bramanti tersenyum, “Tidak. Aku akan berpesan agar kau
hati-hati di jalan.”
Kini Panjanglah yang tersenyum sambil melangkah pergi.
Sepeninggalan Panjang, Bramanti kembali merenung. Ia masih berdiri
dipintu regol. Berbagai masalah hilir mudik di dalam kepalanya. Dan setiap
kali ia mencoba untuk mengerti tentang dirinya sendiri.
“Kenapa aku tidak menyukainya?” pertanyaan itu selalu datang mengetuk
jantungnya.
“Aku telah membuat kesalahan. Aku tidak boleh membenci siapapun.
Apalagi kakang Panggiring. Ia adalah saudaraku seibu.”
Bramanti itu terkejut ketika ia tiba-tiba saja mendengar seseorang
menyapanya, “Siapakah yang kau tunggu Bramanti?”
Bramanti tergagap. Ketika ia mengangkat wajahnya hatinya menjadi
berdebar-debar. Yang berdiri dihadapannya adalah Ratri. Begitu asyik ia
tenggelam di dalam angan-angannya tentang Panggiring sehingga ia tidak
mengerti bahwa yang berhenti di depan regol itu adalah Ratri. Disangkanya
orang-orang lewat seperti yang lain. Tanpa memperhatikannya, dan bahkan
tanpa menegurnya. Apabila ia mendahului menegur, orang-orang itu akan
menjawab sekenanya. Tetapi kali ini yang lewat justru berhenti didepan
regol itu adalah Ratri.
Bramanti mencoba mengendalikan perasaannya. Semula ia tidak merasakan
getaran yang aneh itu, apabila ia bertemu dengan gadis itu. Tetapi
semakin lama, justru wajah itu semakin terukir di dinding hatinya.
Dengan terbata-bata Bramanti bertanya, “Darimana kau Ratri?”
“Pertanyaanku belum kau jawab,” sahut Ratri. “Siapakah yang kau
tunggu?”
Bramanti menggelengkan kepalanya. “Aku tidak menunggu seseorang. Tidak
ada seorang pun yang mengharapkanku menunggunya.”
“Ah,” Ratri berdesah. “Kau terlampau perasa Bramanti. Mungkin karena
kau sudah terlampau lama meninggalkan Kademangan ini sehingga kau masih
perlu menyesuaikan diri.”
“Mungkin, mungkin,” Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian,
“Tetapi kemana kau akan pergi sekarang?”
“Aku hanya berjalan-jalan saja.”
“Apakah kau tidak takut berjalan-jalan sendiri?”
“Apa yang aku takutkan?”
“Bukankah kau hampir saja dibawa oleh orang-orang Panembahan Sekar
Jagat?”
“Ah,” sekali lagi ia berdesah. “Menurut ayah,” katanya selanjutnya.
“Hal itu tidak akan terulang lagi. Salah seorang dari mereka telah
memberikan jaminan. Dan Panembahan Sekar Jagat sendiri pasti tidak akan
membenarkan sikap orang-orang itu.”
“Apakah kau yakin?”
“Tentu tidak, tetapi aku merasa cukup aman disiang hari. Sebab, kalau
mereka akan datang dimanapun saja aku berada tidak seorang pun yang akan
dapat menghalangi maksud mereka selain membunuh diri.” (Bersambung)-m

Leave a Reply