Tanah Warisan 084

31 Oktober 2001,  “Ah, itu tidak perlu Ratri. Bukankah seorang telah menolongmu.”
“Ya, Putut Sabuk Tampar, darimana kau tahu?” “Setiap orang menceriterakan,” namun kemudian dengan tergesa-gesa
Bramanti memindahkan persoalan, “Tetapi apakah kau mempunyai suatu
keperluan.”
“Tidak. Sebenarnya aku ingin pergi ke bendengan. Sudah lama aku tidak
pergi ke sana. Tetapi seperti katamu, aku masih takut keluar dari
pedukuhan ini meskipun disiang hari. Akhirnya aku berjalan saja menyusuri
jalan ini.”
Bramanti menarik nafas.
“Tetapi,” tiba-tiba Ratri melangkah maju. “Aku dengar dari ayah apakah
Panggiring juga akan kembali?”
Dada Bramanti berdesir. Sejenak ia tidak segera dapat menyahut,
sehingga Ratri mengulangi pertanyaannya.
Bramanti menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu Ratri. Yang aku
ketahui, Ki Tambilah yang baru pulang. Itu pun aku hanya sekadar mendengar
dari Panjang. Aku belum bertemu dengan Ki Tambi itu sendiri.”
“Ayah sudah bertemu semalam di Kademangan. Tetapi Ki Tambi tidak mau
mengatakan apapun tentang Panggiring sebelum ia bertemu dengan ibumu.
Apakah ia sudah datang kemari?”
“Belum. Aku juga mengharapkannya.”
Ratri mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba saja ia berkata,
“Ah, aku akan pulang.”
“Begitu tergesa-gesa. Apakah kau tidak singgah dahulu?”
Ratri menggelengkan kepalanya.
“Tetapi,” berkata Bramanti kemudian, “Kenapa kau menaruh begitu besar
perhatian kepada kakang Panggiring?”
Ratri mengerutkan keningnya. Kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil
menjawab. “Ah, aku sama sekali tidak menaruh perhatian. Tetapi aku
melihat kau berdiri di regol ini, aku teringat ceritera ayah semalam,
bahwa seseorang telah berceritera tentang Panggiring. Karena itu aku
bertanya kepadamu sekarang.”
Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Sayang. Aku
belum mengetahui ceritera tentang kakang Panggiring. Aku mendengar
dari Panjang yang baru saja datang kemari.”
“Apakah Panjang lewat di jalan ini?” bertanya Ratri.
“Baru saja. Apakah kau tidak melihat seseorang keluar dari halaman ini?
Kalau yang baru saja keluar itu Temunggul, maka aku pasti menyangka
bahwa kalian memang telah berjanji untuk datang kemari, karena begitu
berurutan.”
“Ah,” Ratri mengerutkan keningnya. “Jangan kau sebut-sebut lagi hal itu
Bramanti.”
Bramanti tersenyum. Katanya, “Kenapa? Bukankah semuanya sudah beres?”
“Apa?” potong Ratri. “Sekali lagi aku minta, jangan kau sebut-sebut
lagi hal itu. Bertanyalah tentang hal-hal yang lain. Tetapi jangan tentang
hal itu. Kau membuat aku menjadi berdebar-debar demikian?”
“Maafkan Ratri. Bukan maksudku. Aku hanya ingin bergurau saja.”
“Aku tahu. Tetapi aku minta, jangan kau ulang lagi.”
“Baiklah. Aku akan berusaha untuk tidak menyebutkannya lagi.”
“Terima kasih,” sahut Ratri, yang kemudian katanya, “Aku akan
meneruskan langkahku. Aku ingin mengunjungi kawan-kawan.”
“Apakah kau tidak singgah dahulu?”
Ratri termenung sejenak. Namun kemudian, “Terima kasih Bramanti. Lain
kali.”
Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Ia mempersilakan Ratri singgah
selain adat kebiasaan. Tetapi ia mengharap Ratri itu menolaknya, karena
apabila Temunggul melihatnya, atau siapapun yang akan menyampaikannya
kepada Temunggul, maka ia akan menemui kesulitan.

Leave a Reply