Tanah Warisan 085

01 Nopember 2001,  RATRI pun kemudian melangkah meninggalkannya. Ia berjalan searah dengan Panjang. Tetapi kemudian Ratri berbelok ke jalan sempit menuju ke
rumah kawannya.Bramanti pun kemudian masuk ke halaman rumahnya. Perlahan-lahan ia
melangkahkan kakinya menunju ke kandang. Kemudian sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya ia duduk bersandar dinding. Sekilas terbayang seseorang
yang telah begitu lama tidak dijumpainya. Kakaknya seibu tetapi tidak
seayah. Dicobanya untuk mengingat-ingat kembali wajah itu. Wajah yang
keras seperti batu-batu padas di pegunungan. Meskipun saat itu Panggiring
masih kanak-kanak, tetapi sudah nampak pada sifat dan kebiasaannya,
bahwa ia adalah seorang yang keras hati.
“Kakang Panggiring terlampau keras kepala,” desis Bramanti. “Dan itulah
agaknya yang membuat ayah tidak begitu senang kepadanya. Sama sekali
bukan karena kakang Panggiring itu anak tirinya. Ayah bukan orang yang
sejahat itu, mengusirnya dan memukulinya. Tidak. Semua itu karena
kesalahan kakang Panggiring sendiri. Ayah tidak pernah mengusirnya, tetapi
kakang Panggiring sendirilah yang bergi meninggalkan keluarga kami.
Tetapi ingatan itu terlampau kabur di kepala Bramanti, bagaimanapun
juga, Bramanti tidak akan berpihak kepada Panggiring. Sebagai seorang anak
laki-laki betapapun ia mengetahui kekurangan ayahnya, namun dalam
persoalan ini ia tidak dapat memandanginya tanpa menyangkutkan diri
sendiri.
“Apakah yang akan diberitakan oleh Ki Tambi itu tentang kakang
Panggiring?” pertanyaan itu selalu mengganggunya, sehingga karena itu,
tiba-tiba ia bangkit dan melangkah keluar lagi dari dalam kandang. “Aku harus
memberitahukannya kepada ibu, supaya ibu tidak terkejut.”
Maka Bramanti itupun kemudian mencari ibunya. Dan dikatakannya apa yang
didengarnya tentang Ki Tambi itu.
Wajah ibunya yang sudah berkerut-kerut karena umurnya itupun menjadi
semakin berkerut-kerut. Di mata orang tua itu, tiba-tiba mengambang
setitik air.
“Apakah yang akan dikatakannya tentang kakakmu?”
Bramanti menggelengkan kepalanya, “Aku tidak mengerti ibu.”
“Apakah ia akan pulang juga?”
“Entahlah bu,” jawab Bramanti.
Ibunya pun kemudian terdiam. Tetapi tatapan matanya kemudian menembus
daun pintu yang tidak tertutup rapat, menyentuh bayangan matahari di
kejauhan, seolah-olah perempuan tua itu sedang mencari sesuatu di alam
kembara angan-angannya.

Leave a Reply