Tanah Warisan 086
02 Nopember 2001, Tetapi perempuan tua itu tahu jauh lebih banyak dari Bramanti, apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan kini yang dapat dilakukannya hanyalah
menarik nafas dalam-dalam.“Apakah Ki Tambi akan singgah ke rumah kami?” bertanya perempuan tua itu.
“Begitulah yang aku dengar.”
Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Mudah-mudahan aku akan
mendengar kabar yang baik, yang membuat umurku tidak segera berakhir.”
Bramanti mengerutkan keningnya mendengar gumam ibunya. Tetapi ia tidak
berkata sepatah kata pun.
Dengan demikian maka sejenak mereka saling berdiam diri. Mereka
masing-masing membiarkan angan-angannya membumbung segala waktu. Yang sudah
lampau dan yang masih akan mereka jalani.
Namun sejenak kemudian Bramanti berdiri sambil berkata, “Bu, aku akan
turun ke halaman.”
“Tetapi bukankah kau tidak akan pergi keluar? Kita tunggu Ki Tambi,
supaya kita cepat mendengar ceriteranya bersama-sama.”
“Aku hanya akan keluar dan turun ke halaman ibu. Udara terlampau panas.
Mungkin aku berada di kandang, tetapi mungkin juga aku menganyam wuwu
di bawah pohon sawo.”
“Baiklah,” jawab ibunya. “Kalau Ki Tambi datang, aku akan memanggilmu.”
Bramanti pun kemudian meninggalkan ibunya dan pergi ke halaman. Sejenak
ia berdiri termangu-mangu. Dilihatnya beberapa potong bambu bersandar
pada batang sawo yang rimbun. Timbul niatnya membuat wuwu untuk
menangkap ikan di sungai. Tetapi tiba-tiba saja ia merasa malas. Karena itu,
maka ia pun melangkah kembali ke kandang dan kini bahkan ia berbaring di
atas jerami kering.
Bramanti sekali lagi tenggelam di dunia angan-angannya. Sekali-kali ia
mendengar lenguh lembu di kejauhan. Burung perenjak berkicau di dahan
batang melanding disamping kandang seakan-akan mengabarkan, bahwa
sebentar lagi akan datang seorang tamu berkunjung kerumah itu.
Bramanti terkejut ketika ia mendengar suara ibunya memanggil. Dengan
tergesa-gesa ia bangkit dan melangkah keluar kandang, dan kemudian dengan
dada berdebar-debar ia pergi ke pendapa.
Jantungnya serasa berguncang ketika ia melihat, seseorang berdiri di
tangga pendapa bersama ibunya. Dan segera ia mengenal orang itu. Meskipun
tampak orang itu menjadi semakin tua, namun ia masih dapat mengenalnya
dengan pasti, bahwa orang itulah yang bernama Ki Tambi.
Orang itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ketika ia melihat
Bramanti mendatanginya. Dengan ramahnya ia berkata, “Kalau aku tidak
mendengar dari ibumu, bahwa kaulah Bramanti itu, aku sudah tidak dapat
mengenalmu lagi.”
Bramanti pun menganggukkan kepalanya. Dengan hormatnya ia menyahut,
“Terima kasih. Tetapi aku masih dapat mengenal dengan jelas dan bahkan
hampir tidak berubah, bahwa aku berhadapan dengan Ki Tambi. Kira-kira
sepuluh tahun yang lampau, Ki tambi juga sudah seperti ini, dan sekarang Ki
Tambi masih juga seperti ini.”
Orang yang bernama Ki Tambi itu tertawa. Katanya, “Aku setiap hari
minum jamu Bramanti sehingga aku menjadi awet muda.”
Bramantipun tertawa. Ibunya yang jarang sekali mendapat kesempatan
untuk tertawa itu pun tertawa pula.
“Marilah, masuklah Ki Tambi,” ibu Bramanti itu pun mempersilahkan.
Meskipun kemudian bersama-sama masuk ke pringgitan, sejenak kemudian
mereka telah terlibat dalam pembicaraan yang lancar. Mereka saling
menanyakan keselamatan masing-masing dan sejenak kemudian mulailah mereka
berceritera tentang diri mereka.
(Bersambung)-m
Posted on November 30th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 253 Views





Leave a Reply