Tanah Warisan 087
03 Nopember 2001, “Jadi Ki Tambi telah merantau lebih dari lima tahun,” bertanya ibu
Bramanti. “Tujuh tahun,” sahut Ki Tambi.“Sudah cukup lama Ki Tambi meninggalkan Kademangan ini,” berkata ibu
Bramanti. “Mungkin sekarang Ki Tambi merasa bahwa Kademangan ini sudah
jauh berubah dari Kademangan yang dahulu kau tinggalkan.”
“Tidak. Aku masih cukup mengenalnya. Hampir tak ada perubahan sama
sekali.”
“Kecuali isi dan wataknya,” potong Bramanti.
Ki Tambi mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia mengangguk-anggukkan
kepalanya. “Ya, bentuk lahiriahnya hampir tidak berubah. Tetapi betul
katamu Bramanti. Isi dan watak dari Kademangan ini agaknya memang telah
berubah. Baru dua hari aku berada di Kademangan ini namun aku sudah
melihat dan mendengar banyak sekali peristiwa-peristiwa yang menurut
dugaanku, tidak akan dapat terjadi beberapa tahun yang lampau.”
“Kademangan ini seolah-olah diliputi oleh keputusasaan,” sahut
Bramanti.
Ki Tambi tidak segera menjawab. Namun yang terdengar adalah suara
ibunya, “Kita sudah tidak berhak lagi untuk mencampurinya Bramanti. Kita
lebih baik berbuat untuk diri kita sendiri.”
Ki Tambi yang mendengar kata-kata ibu Bramanti itu mengerutkan
keningnya. Sekilas ditatapnya wajah perempuan tua itu, kemudian wajah Bramanti.
Tetapi Bramanti sedang menundukkan kepalanya.
“Aku sudah mendengar semuanya. Aku sudah mendengar tentang orang yang
menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat. Aku sudah mendengar tentang kau
Bramanti bahwa kau pun ternyata belum lama kembali ke Kademangan ini
sejak kepergianmu lebih dari sepuluh tahun yang lampau, kira-kira tiga
tahun sebelum aku meninggalkan Kademangan ini bahkan aku sudah mendengar
pula ceritera terakhir, tentang Ratri yang hampir saja menjadi korban
salah seorang pengikut Panembahan Sekar Jagat itu. Untunglah saat itu
datang seorang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar. Bukankah
begitu?”
“Begitulah menurut pendengaranku Ki Tambi,” jawab Bramanti.
“Bahkan aku mendengar pula seseorang yang tidak dikenal telah menolong
dua orang calon anggota pengawal yang sedang menjalani pendadaran.
Benar begitu?”
“Mungkin Ki Tambi. Akupun hanya mendengar kata orang.”
Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya ia ingin mengucapkan
sesuatu, tetapi tiba-tiba maksudnya itu di urungkannya. Bahkan kemudian
ia hanya menarik nafas dalam-dalam.
Namun sejenak kemudian ia bergumam, “Memang dalam waktu tujuh tahun,
banyak persoalan yang dapat terjadi. Seperti persoalanku sendiri. Hampir
tidak seorang pun yang memperhatikan kepergianku saat itu. Bahkan
mungkin ada satu dua orang yang sama sekali tidak mengerti, bahwa aku pernah
meninggalkan Kademangan ini selama sekian tahun. Waktu itu, aku tidak
lebih dari seorang tukang blandong yang tidak berarti apa-apa. “Ki
Tambi berhenti sejenak. Kemudian dilanjutkannya, “Tetapi dalam waktu tujuh
tahun terakhir, ternyata aku telah berubah sama sekali meskipun bentuk
lahiriah, aku masih juga Tambi yang dahulu.”
Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Pengalamanku sangat berarti bagiku. Dan aku sekarang akan dapat
berusaha dengan cara yang lebih baik daripada seorang blandong yang setiap
hari selalu memeras tenaga. Aku sudah dapat menabung sedikit modal
apabila suatu ketika aku tertarik untuk berdagang.”
Bramanti masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sebenarnya ia
ingin segera mendengar berita tentang Panggiring.
Agaknya ibu Bramanti pun demikian pula. Bahkan perempuan tua itu sudah
tidak menahan perasaannya lagi. Sehingga sesaat kemudian terloncat
pertanyaannya, “Tetapi Ki Tambi, apakah kau benar-benar bertemu dengan
Panggiring?”
(Bersambung)-m
Posted on November 30th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 216 Views





Leave a Reply