Tanah Warisan 088

04 Nopember 2001,  Ki Tambi mengerutkan keningnya. Sejenak dipandanginya Bramanti, dan sejenak kemudian ibunya.  “Benarkah?” desak ibu Bramanti itu.Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Terdengar jawabannya
perlahan-lahan. “Ya. Aku memang bertemu dengan Panggiring.
“Bagaimana dengan anak itu Ki Tambi?”
Ki Tambi tidak segera menjawab. Meskipun kepalanya terangguk-angguk dan
bibirnya bergerak-gerak, namun tidak sepatah katapun yang dapat
didengar berdesis dari mulutnya.
“Bagaimana Ki Tambi,” perempuan tua itu semakin mendesak.
Tetapi Ki Tambi masih belum menjawab. Bahkan kemudian ia bertanya
kepada Bramanti, “Bramanti, bukankah kau sudah tidak berhasrat untuk
meninggalkan rumah ini lagi?”
Bramanti menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi dihadapan ibunya ia tidak
menjawab lain kecuali mengiakannya. Meskipun demikian ia berkata lebih
lanjut, “Tetapi, entah salahku entah kawan-kawanku bermain di masa
kanak-kanak, masih kurang dapat saling menyesuaikan diri. Aku masih merasa
terasing, dan bahkan di asingkan.”
Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Lambat laun
Bramanti, aku yakin bahwa kau akan tetap menjadi keluarga Kademangan ini.
Karena itu, usahakanlah. Dan jangan pernah berfikir lagi untuk meninggalkan
ibumu yang sudah tua. Kampung halaman dan tanah warisanmu ini. Kau
harus menjadi anak yang baik, yang akan menjadi kebanggaan seluruh
keluargamu, dan bahkan lingkunganmu.”
Bramanti menjadi bingung. Dengan demikian ia justru terdiam. Kemudian
sekali lagi Bramanti menarik nafas dalam-dalam.
“Tetapi,” ibunya menjadi semakin tidak sabar. “Bagaimana dengan
Panggiring? Apakah ia masih hidup atau sudah mati?”
“Sampai aku meninggalkan tempatnya, ia masih tetap hidup. Entahlah
apabila terjadi sesuatu dengan anak itu di perjalanannya. Karena Panggiring
pun merantau seperti aku pula. Tetapi ia lebih telaten tinggal di
suatu tempat dari padaku.”
Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian terdengar ia berdesis.
“Hanya itukah berita tentang Panggiring yang kau bawa Ki Tambi?”
Ki Tambi menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi masih belum menjawab
pertanyaan itu. Bahkan sekali lagi bertanya kepada Bramanti, “Bramanti, aku
mengharap, bahwa kau akan menjadi pegangan hidup ibumu di hari tuanya
ini. Aku dengar bahwa kau bersikap baik. Maksudku, kau sama sekali tidak
ingin melepaskan dendam atas kematian ayahmu. Bahkan kau bermaksud untuk
membersihkan nama ayahmu dengan perbuatan. Betulkah kau pernah berkata
begitu kepada kawan-kawanmu?”
“Ya Ki Tambi. Aku memang pernah berkata demikian. Ketika itu aku
dituduh, bahwa kedatanganku semata-mata didorong oleh perasaan dendam.
“Bagus. Aku berdoa Bramanti, supaya kau menjadi penebus nama
keluargamu. Nama yang buram akan menjadi cerah, karena kau telah berbuat banyak
kebaikan, meskipun sampai saat ini kau masih tetap dicurigai.”
Bramanti mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti arah pembicaraan Ki
Tambi. Kedatangannya diharapkan untuk dapat mengatakan beberapa masalah
mengenai Panggiring. Tetapi sedemikian jauh yang dipercakapkannya
adalah dirinya.
“Tetapi,” sekali lagi ibunya memotong. “Bukankah kau ingin mengatakan
tentang Panggiring, Ki Tambi?” Selain berita bahwa kau pernah berjumpa,
dan berita tentang ketidaktahuanmu akan keadaannya sepeninggalanmu,
apakah kau tidak pernah mengetahui, atau mendengar, apakah kerjanya kini?”

Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya wajah perempuan tua itu.
Kemudian katanya dalam nada berat, “Nyi Pruwita. Kau harus merasa
berbahagia bahwa Bramanti telah kembali. Ia akan menjadi sandaran hidup
Nyai di hari mendatang. Nyai tidak usah memikirkan apa-apa lagi harus di
pegang erat-erat.”

Leave a Reply