Tanah Warisan 089
05 Nopember 2001, Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya wajah perempuan tua itu. Kemudian katanya dalam nada berat, “Nyi Pruwita. Kau harus merasa berbahagia bahwa Bramanti telah kembali. Ia akan menjadi sandaran hidup Nyai di hari mendatang. Nyai tidak usah memikirkan apa-apa lagi harus di
pegang erat-erat.”
Ibu Bramanti menjadi kian berdebar-debar. Ia merasa bahwa sesuatu yang
tidak menyenangkan telah terjadi atas Panggiring. Tetapi Panggiring
belum mati sepengetahuan Ki Tambi. Justru dengan demikian, maka perempuan
tua itu menjadi semakin terdorong untuk mengetahui apakah yang
sebenarnya telah terjadi. Bagaimanapun juga, Panggiring adalah anaknya seperti
Bramanti. Sebagai seorang ibu, maka sudah tentu ia tidak akan dapat
melepaskan ikatan yang terjalin antara dirinya dan anak yang telah
dilahirkannya.
Karena itu, maka dengan gelisah ia menuggu Ki Tambi mengatakannya
selanjutnya tentang anaknya yang sulung, yang lahir dari ayah yang lain dari
ayah Bramanti.
“Nyai,” berkata Ki Tambi kemudian. “Aku berkeras untuk tidak mengatakan
apa-apa tentang Panggiring semalam di Kademangan sebelum aku bertemu
dengan Nyai. Beberapa orang telah bertanya tentang anak itu.”
“Kenapa tiba-tiba saja mereka bertanya tentang Panggiring.”
“Aku terdorong mengatakan bahwa aku telah bertemu dengan anak itu di
Kudus.”
“Ya, tetapi kenapa dengan anak itu?” desak ibunya yang menjadi semakin
tidak sabar lagi.
“Nayi, berita tentang Panggiring memang kurang baik. Tetapi jangan
terlampau disesalkan. Nyai harus berterima kasih banyak kini Bramanti ada
di rumah ini, memelihara tanah ini sebagai tanah warisan dengan
baik-baik. Memperbaiki rumah yang menurut pendengaranku sudah hampir tidak
dapat ditempati lagi karena lubang-lubang pada atapnya menjadi kian hari
kian luas. Dan sekarang rumah dan halaman ini sudah kelihatan bersih dan
rapi meskipun tidak dapat diperbandingkan dengan saat-saat Ki Pruwita
masih kayaraya.”
Debar di dada perempuan tua menjadi kian tajam menggores jantungnya.
“Katakan Ki Tambi, katakan.”
“Endapkanlah perasaanmu Nyai,” Ki Tambi berhenti sejenak.
“Apakah anak itu telah mati?”
Ki Tambi tidak segera menjawab. Ia berpaling memandangi wajah Bramanti
yang tegang untuk sejenak. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya,
“Tidak. Panggiring tidak mati. Tetapi hidupnya kini sama sekali sudah
tidak berarti lagi.”
“Maksudmu?” desak ibunya.
Sekali lagi Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. “Nyai, anak itu
terperosok ke dalam dunia yang paling kelam.”
Nyai Pruwita terhenyak ditempatnya. Mulutnya serasa terbungkam, dan
dadanya menghentak-hentak seperti akan retak. Sementara Bramanti
mendengarkannya dengan tegang.
“Apakah maksud Ki Tambi sebenarnya dengan dunia yang hitam itu?”
bertanya Bramanti.
Ki Tambi menggelengkan kepalanya. Desisnya, “Hampir tidak dapat
dikatakan. Setiap orang tidak berani lagi menyebut namanya. Karena Panggiring
seolah-olah telah menjadi hantu yang paling menakutkan. Setiap orang
yang berhati kecil, akan menjadi pingsan apabila mereka mendengar nama
itu Panggiring.”
“Apakah yang telah dilakukan,” ibunya memotong dengan suara yang
gemetar, “Apa? Apakah anakku….” suara perempuan itu terputus. Dari matanya
meleleh air yang bening membasahi pipinya yang kisut.
Posted on November 30th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 110 Views





Leave a Reply