Tanah Warisan 090

06 Nopember 2001,  “Entahlah, bagaimana asal mulanya Nyai. Panggiring di daerah pesisir Utara benar-benar menjadi hantu yang menakutkan. Namanya dikenal oleh setiap orang. Namun sayang, bahwa nama Panggiring di pesisir Utara adalah nama seorang perampok dan perampok besar, hampir tiada bandingnya. Di
darat dan di laut.”
“Oh,” terdengar sebuah desah yang dalam. Dan tiba-tiba ibu Bramanti itu
menjadi lemas. Hampir saja ia jatuh terjerembab dari amben apabila
anaknya tidka dengan sigapnya menahannya.

“Ibu,” panggil Bramanti.
Nafas perempuan tua itu menjadi terengah-enGah. Lamat-lamat terdengar
suaranya dalam dan parau, “Panggiring, Panggiring.”
Ki Tambi pun kemudian menjadi cemas dan gelisah. Ia sudah berusaha
untuk mengatakannya dengan hati-hati. Tetapi bagaimana pun juga, kejutan
perasaan itu benar-benar telah mengguncang seisi dadanya.
Kemudian Bramanti membaringkan ibunya itu di pembaringannya. Perempuan
tua itu kemudian sama sekali tidak berhasil menahan tangisnya.
Panggiring adalah anaknya. Betapapun juga.
Ki Tambi pun kemudian duduk di sampingnya. Dengan hati-hati ia mencoba
menghiburnya. Mengucapkan beberapa kata pemupus, agar perempuan tua itu
ikhlas menerima keadaan yang tidak mungkin lagi dapat dihindari.
“Ki Tambi,” berkata perempuan tua itu di sela-sela isaknya. “Aku sudah
terlampau biasa menahan hati dalam kesulitan perasaan yang paling
parah. Hampir sepuluh tahun aku hidup dalam keadaan yang asing. Hampir tidak
seorang pun yang mau menerima aku di dalam pergaulan hidup di
Kademangan ini. Meskipun masih juga ada satu dua orang menganggapku sebagai
manusia yang berperasaan, tetapi aku benar-benar telah terasing. Dan aku
dapat menahankannya. Sepuluh tahun sejak suamiku itu meninggal dunia.
Tetapi selama itu aku masih berpengharapan.”
“Apakah yang Nyai harapkan?”
“Anak-anakku.”
Bramanti mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja di luar sadarnya ia
berkata, “Apakah kepulanganku tidak berarti bagi ibu?”
“Tentu. Tentu Bramanti. Kau begitu sama artinya dengan kakakmu
Panggiring. Kau adalah anak yang aku lahirkan seperti aku melahirkan kakakmu
meskipun kalian tidak seayah. Tetapi ayah-ayah kalian itu semuanya sudah
tidak ada lagi. Dan yang tinggal padaku adalah kalian berdua. Kau dan
Panggiring. Harapanku aku letakkan kepadamu dan kakakmu. Kehadiranmu
sangat berarti bagiku. Apalagi apabila kakakmu Panggiring itu tidak akan
kembali lagi. Maka satu-satunya sandaran hidupku adalah kau.

Leave a Reply