Tanah Warisan 091

07 November 2001,  Bramanti menundukkan kepalanya. Ia menyesal sekali, bahwa ia telah membuat ibunya menjadi semakin pedih. Tetapi ia tidak dapat mengingkari
perasaannya sendiri. Aneh, bahwa ia sama sekali tidak mengharapkan kakaknya itu pulang. Seperti ayahnya, Panggiring kurang mendapat tempat dihatinya. Apalagi kini, setelah ia mendengar, bahwa Panggiring telah menjadi seorang perampok dan perampok yang menakutkan. Tetapi sebagai seorang yang matang, Bramanti sebenarnya tidak pernah disentuh oleh perasaan
takut itu. Terhadap siapapun.

Sejenak Bramanti dicengkam oleh perasaannya. Kadang-kadang ia memang
sempat mencela dirinya sendiri. Apapun yang dilakukan Panggiring, dan
betapa ia akan sanggup mengingkarinya, namun kenyataan bahwa Panggiring
itu dilahirkan oleh ibunya itu tidak akan dapat dihapuskan. Bagaimana pun
juga Panggiring adalah kakaknya.
Ki Tambi memandangi ibu Bramanti dengan tatapan belas kasihan.
Perempuan itu telah terdorong-dorong kejalan yang terlampau terjal dan curam.
Sebagai seorang yang dekat dengan keluarga Pruwita, Ki Tambi mengetahui
banyak, tentang apa yang pernah terjadi atas perempuan tua itu.
“Nyai,” berkata Ki Tambi. “Setelah aku berada di Kademangan ini
kembali, maka kau tidak akan terasing lagi. Setidak-tidaknya aku akan selalu
berkunjung ke rumah ini seperti yang selalu aku lakukan dahulu.
Perlakuan yang tidak wajar atas kalian tidak akan pernah terjadi lagi. Aku akan
minta kepada para tetangga.”
Tetapi perempuan itu menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu Ki Tambi.
Aku tidak pernah mengharapkan belas kasihan yang demikian. Kalau mereka
berbaik kepada kami hanya karena memenuhi permintaanmu, maka sebenarnya
mereka tidak berbaik kepada kami, tetapi semata-mata kepadamu.”
Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Sikap itu masih saja melekat
pada Nyai Pruwita, yang pernah disebut Nyai Demang Candi Sari. Tetapi Ki
Tambi tidak menyahut lagi. Ia tidak mau membuat perempuan itu semakin
sakit.
Dengan demikian maka sejenak mereka saling berdiam diri. Sehingga
dengan demikian ruangan itu menjadi sepi.
Angin yang silir berhembus menyusup di antara daun pintu yang masih
menganga. Satu-satu terdengar ciap burung emprit di pepohonan dan kicau
burung podang dipelapah pisang.
Sejenak kemudian Ki Tambi berdesak. Perlahan-lahan pula ia berkata,
“Nyai. Sudah tentu pada suatu ketika berita ini akan terpencar. Mungkin
sehari dua hari aku masih dapat mengelakkan segalam macam pertanyaan,
tetapi sudah tentu pada suatu ketika aku akan lengah dan mengatakan apa
yang sebenarnya telah terjadi. Karena itu sebelumnya aku minta maaf
kepadamu.”
Perempuan tua itu menganggukkan kepalanya. Betapa beratnya ia menjawab
“Bukan salahmu Ki Tambi. Katakanlah apa yang sebenarnya terjadi.
Biarlah arang yang tercoreng di wajah kami menjadi semakin hitam. Namun
sekali lagi aku masih berpengharapan. Kalau saja Bramanti berhasil, maka ia
akan membersihkan segala cacad dan cela itu.”
“Mudah-mudahan,” desis Ki Tambi. Kemudian, “Namun Nyai, bagaimana pun
juga, aku harus mengucapkan terima kasih kepada Panggiring itu. Meskipun
ia menjadi seorang yang paling ditakuti, tetapi ia tidak melupakan
orang-orang yang pernah dikenalnya di masa kanak-kanaknya”
“Apa yang telah terjadi?” bertanya Bramanti.

Leave a Reply