Tanah Warisan 092
08 Nopember 2001, “Dalam perjalananku, suatu ketika aku bertemu dengan segerombolan penyamun. Betapapun aku mencoba melawan, namun aku sama sekali tidak berdaya. Akhirnya aku tertangkap. Tidak ada di dalam ingatan mereka untuk
membiarkan orang-orang yang ditangkapnya untuk tetap hidup. Karena itu,
maka akupun sudah disiapkannya untuk menjadi tontonan pada saat matiku,”
Ki Tambi berhenti sejenak, kemudian “Tetapi ternyata Tuhan masih ingin
memelihara aku sebagai hamba-Nya dimuka bumi ini. Ternyata pemimpin
tertinggi dari penyamun itu sedang menerima tamu yang dihormatinya. Tamu
itu adalah Panggiring. Raja dari segala raja perampok dan perampok.”
Bramanti mendengarkannya dengan sepenuh minat. Sedang ibunya pun
mencoba untuk mengerti persoalan itu.
“Ternyata Panggiring masih mengenal aku,” sambung Ki Tambi. “Karena
itu, maka ia minta aku dibebaskan. Mula-mula para penyamun itu
berkeberatan. Mereka takut kalau aku berceritera tentang mereka dan kedudukan
mereka. Tetapi mereka sama sekali tidak dapat melawan kehendak Panggiring.
Sehingga akhirnya aku dilepas kannya. Sebelum aku meninggalkan neraka
itu, Panggiring mendatangi aku sambil berkata, “Ki Tambi, kau masih
mengenal aku.”
“Ya,” jawabku.
“Nah, seterusnya berhati-hatilah. Jangan sampai terperosok kesarang
manusia-manusia serigala macam ini. Untunglah bahwa aku sempat melihat.
Kalau tidak, maka kau pasti sudah dibantai seperti seekor kelinci. Nah,
untuk keselamatanmu, bawalah tanda ini. “Dan Panggiring tidak memberi
aku sebuah lencana.”
Bramanti mengerutkan keningnya, “Apakah lencana itu masih ada pada Ki
Tambi?”
“Tentu,” jawab Ki Tambi. “Aku masih menyimpannya.”
Kemudian Ki Tambi mengambil sesuatu dari dalam kantung ikat pinggang
kulitnya. Sebuah kepingan perak yang terukir. Dan ukiran itu telah
membuat dada Bramanti dan ibunya menjadi berdebar-debar. Ukiran itu berupa
sebuah candi kecil. Candi Sari.
“Oh,” desis ibunya. “Ia masih selalu ingat tanah kelahirannya.”
“Tetapi ia telah menodainya pula,” sahut Bramanti dengan serta merta.
Wajah ibunya yang suram itu menegang sesaat, namun kemudian titik air
di matanya menjadi semakin deras. Tetapi ia tidak berkata sesuatu.
“Maaf ibu,” bisik Bramanti. “Aku tidak ingin menyakitkan hati ibu.”
“Tidak Bramanti. Kau tidak bersalah. Kau benar. Kakakmu tidak saja
menodai Kademangan ini, tetapi ia telah semakin menodai nama keluarga kami
yang memang sudah tidak dikehendaki oleh siapapun juga ini.”
“Tetapi lencana itu telah menyelamatkan aku beberapa kali. Agaknya
setiap gerombolan yang berkeliaran di pesisir Utara telah mengenal bentuk
candi semacam itu. Dan merekapun agaknya telah mengerti arti
daripadanya. Setiap orang yang mempergunakan tanda itu berada di dalam
perlindungan seseorang yang mereka segani, Panggiring. Demikian juga aku. Setiap
kali aku jatuh ke tangan seseorang yang bermaksud jahat terhadapku, maka
setiap kali mereka minta maaf apabila mereka melihat lencana perak
dengan ukiran sebuah candi kecil itu.”
Titik air mata perempuan tua itu menjadi semakin deras, sedang dada
Bramanti pun menjadi semakin keras berdentang. Ceritera tentang kakaknya
itu telah benar-benar membuatnya gelisah oleh perasaan yang tidak
menentu.
“Sudahlah,” berkata Ki Tambi kemudian, “Jangan terlampau dipikirkan.
Aku sengaja memberitahukan kepada Nyai Pruwita, supaya Nyai mendengarnya
lebih dahulu, langsung dari mulutku. Apabila kelak Nyai mendengar dari
orang lain, yang mungkin sudah ditambah atau dikurangi, maka luka
dihati Nyai akan menjadi lebih parah lagi.”
Posted on November 30th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 391 Views





Leave a Reply