Tanah Warisan 093

09 Nopember 2001,  “Terima kasih Ki Tambi,” gumam Nyai Pruwita. “Aku sudah mendengar berita tentang anakku. Apapun yang telah terjadi atasnya, namun aku telah
mengetahuinya.”“Tetaplah tenang Nyai. Aku percaya bahwa Bramanti akan berhasil mencuci
nama keluarga ini. Beberapa orang seumurku akan dapat menjadi saksi,
bahwa keluarga ini pada mulanya adalah keluarga yang baik. Tidak bedanya
dengan keluarga-keluarga yang lain. Adalah wajar, apabila satu di
antara yang baik itu mempunyai cacad atau celanya.”
Nyai Pruwita mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi air di matanya
masih belum kering.
“Berdoalah,” desis Ki Tambi. Dan sekali lagi perempuan tua itu
mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Nah, sudahlah. Aku minta diri. Dadaku telah menjadi lapang, bahwa aku
telah menyampaikannya kepada keluarga ini tentang salah seorang
anggotanya yang hilang.”
“Apakah mungkin yang hilang itu akan kembali Ki Tambi?” tiba-tiba
perempuan tua itu bertanya.
Ki Tambi termenung sejenak. Namun kemudian ia mengangkat pundaknya
berkata, “Hanya Tuhanlah yang tahu.”
Perempuan tua itu mengangkat kepalanya. Namun terasa kepalanya sangat
pening.
“Sudahlah. Berbaringlah,” berkata Ki Tambi.
“Terima kasih Ki Tambi,” sahut perempuan itu, “Seringlah datang kemari,
supaya kami tidak merasa seolah-olah kami adalah orang-orang yang
diasingkan di tanah kelahiran sendiri.”
“Tentu, tentu. Aku akan datang kemari setiap kali.”
Ki Tambi pun kemudian meninggalkan rumah itu, di antar oleh Bramanti
sampai ke regol. Kemudian sepeninggalan orang tua itu, Bramanti berjalan
dengan kepala tunduk naik ke rumahnya kembali. Ditemuinya ibunya masih
berbaring dipembaringannya.
“Bramanti,” berkata ibunya perlahan-lahan, “Kau sudah mendengar
semuanya.”
Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia duduk disamping
ibunya sambil menundukkan kepalanya.
“Harapanku satu-satunya adalah kau. Aku harap kau menyadarinya. Tak ada
sandaran apapun lagi dalam sisa hidupku ini.”
Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Aku mengerti ibu.
Dan aku akan berusaha. Berusaha sedapat-dapat aku lakukan.”
Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Sekarang aku
ingin tidur Bramanti. Kepalaku terlampau pening.”
“Ibu jangan terlampau terpukau oleh peristiwa yang diceriterakan oleh
Ki Tambi. Ibu harus menenangkan diri dan mencoba melupakannya.”
Perempuan itu mengangguk.
“Memang sebaiknya ibu mencoba untuk tidur.”
Sekali lagi perempuan itu menganggukkan kepalanya.
Bramanti pun kemudian pergi ke luar rumah. Tanpa sesadarnya kakinya
telah membawanya masuk ke dalam kandang yang kosong. Perlahan-lahan ia
duduk di atas jerami yang kering bersandar dinding.
Ceritera Ki Tambi tentang kakaknya telah membuatnya menjadi semakin
jauh daripadanya. Bahkan ia merasa, bahwa kakaknya itu telah mempersulit
usahanya untuk memperbaiki nama keluarganya. Sebelum ia dapat berbuat
sesuatu, maka setiap orang akan memalingkan wajahnya, apalagi mereka
berlalu di depan rumah itu, terlebih-lebih lagi dari saat-saat sebelumnya.
“Aku tidak boleh menunggu terlampau lama,” desisnya. “Semuanya harus
segera berakhir. Permainan yang menjemukan itu pun harus segera
berakhir,” namun kemudian ia bergumam. “Tetapi aku tidak dapat tergesa-gesa. Aku
harus mematangkan suasana lebih dahulu, apabila aku tidak ingin
gagal.” (Bersambung)-m

Leave a Reply