Tanah Warisan 094
10 Nopember 2001, Dalam kekalutan pikiran itulah, ia kemudian membaringkan dirinya.
Meskipun ia tidak tertidur, tetapi ia menjadi terkejut ketika disadarinya,
bahwa matahari telah menjadi terlampau rendah.Dengan tergesa-gesa Bramanti keluar dari dalam kandangnya yang kosong
itu. Diambilnya sapu lidinya dan mulailah ia membersihkan halaman. Kali
ini sekadar didepan dan di sekeliling pendapa saja, karena sebentar
kemudian matahari menjadi semakin merah di punggung bukit.
Ketika hari mulai menjadi gelap, maka mulailah ia menyalakan
lampu-lampu di dalam rumahnya dan yang terakhir dinyalakanlah lampu di regol
halaman. Sejenak ia berdiri saja di depan regol, kalau-kalau Panjang lewat
dari Kademangan seperti kebiasaannya. Tetapi setelah beberapa lama anak
muda itu tidak lewat, maka Bramanti pun kemudian masuk ke dalam
halaman, dan langsung naik ke rumahnya.
Ia masih sempat menyiapkan air dan kayu bakar, sebelum ia minta diri
kepada ibunya untuk tidur di kandang seperti kebiasaannya.
Tetapi seperti siang tadi, maka matanya hampir-hampir tidak bisa
dipejamkannya. Angan-angannya selalu saja diliputi oleh ceritera Ki Tambi dan
usahanya untuk memperbaiki nama seluruh keluarganya.
“Secepat datang kesempatan, aku harus menyatakan diri. Semata-mata
untuk mencuci nama yang justru menjadi semakin kotor oleh pokal kakang
Panggiring.”
Dan malam itu juga Bramanti telah membulatkan tekadnya, bahwa ia harus
segera berbuat sesuatu.
Ketika matahari mulai memancarkan sinarnya yang kekuning-kuningan di
pagi hari, Bramanti sudah sibuk membersihkan halaman rumahnya.
Sekali-kali ia melihat seseorang lewat di muka regol halamannya. Namun
seolah-olah mereka sama sekali segan untuk berpaling. Bahkan rasa-rasanya mereka
berjalan dengan tergesa-gesa sambil berjingkat, apabila mereka lewat
didepan regolnya.
“Aku terlampau terpengaruh oleh perasaanku sendiri,” ia berkata di
dalam hatinya. “Aku kira memang demikian yang mereka lakukan sehari-hari.
Mereka belum tentu telah mendengar ceritera tentang kakang Panggiring.
Sehingga sikap mereka sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan sikap
kakang Panggiring itu.”
Namun hal itu telah memperkuat keyakinan Bramanti, bahwa ia harus
segera berbuat sesuatu. Supaya nama keluarganya tidak menjadi semakin lama
semakin cemar dijauhi.
Seperti biasanya, setelah membersihkan halaman, Bramanti segera
mengambil air di perigi. Diisinya jambangan di pakiwan dengan gentong di
dapur. Barulah kemudian ia membersihkan dirinya sendiri.
Ketika ia berdiri di depan regol, seperti biasanya ia melihat Pajang
lewat di muka regol rumahnya. Matanya tampak sayu dengan langkah malas ia
mendekatinya.
“Hampir semalam aku tidak tidur,” desisnya ketika ia sampai di muka
Bramanti.
“Kenapa?” bertanya Bramanti.
“Aku berada di Kademangan.”
“Kenapa di Kademangan?”
“Berbicara saja tanpa ujung pangkal,” Pajang terdiam sejenak, kemudian
katanya bersungguh-sungguh, “Bramanti, aku telah mendengar cerita
tentang Panggiring. Semalam Ki Tambi kami paksa untuk mengatakannya. Tetapi
ia hanya berbicara beberapa patah kata. Menurut orang tua itu,
Panggiring sekarang ternyata telah sesat jalan.”
Bramanti mengerutkan keningnya, “Demikianlah menurut Ki Tambi.”
Posted on November 30th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 139 Views





Leave a Reply