Tanah Warisan 095
11 Nopember 2001, “Terserahlah kepada Panggiring sendiri Bramanti. Kalau memang jalan itu yang dianggap baik,” Panjang berhenti sejenak, kemudian “Tetapi yang penting bagiku adalah sikap Ki Tambi itu sendiri. Ia menyinggung kesulitan yang kini dialami oleh penduduk Kademangan ini. Terutama karena sikap orang yang menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat.”
Bramanti mengerutkan keningnya, “Bagaimana sikapnya?”
Ia merasa terhina oleh keharusan menyerahkan apa saja yang diminta oleh
Panembahan Sekar Jagat itu.
Bramanti menggangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ki Tambi masih juga
Ki Tambi yang dahulu.”
“Bagaimana sikap Ki Demang dan Ki Jagabaya?” bertanya Bramanti.
“Sudah tentu Ki Jagabaya sependapat dengan Ki Tambi. Tetapi seperti
biasanya, Ki Demang ternyata terlampau berhati-hati.”
“Ki Demang ingin membiarkan kita selalu berada dalam ketakutan dan
kegelisahan.?”
“Justru sebaliknya. Menurut Ki Demang, apabila kita melakukan
perlawanan, maka kita pasti akan dihancurkan.”
“Ah, berapa jumlah orang-orang Panembahan Sekar Jagat. Dan berapa
jumlah laki-laki di Kademangan ini.”
“Tetapi hampir setiap orang menjadi ngeri melihat orang yang bernama
Wanda Geni mengacu-acukan senjatanya.”
“Kenapa kita menjadi ngeri? Kalau Wanda Geni seorang atau katakan
berempat dengan kawan-kawannya mengacu-acukan senjata mereka, kita berempat
puluh orang bersama-sama mengacu-acukan pula.”
Panjang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tiba-tiba ia bertanya,
“Apakah kawan Wanda Geni itu hanya empat orang?”
Tetapi Bramanti menyahut, “Dan apakah laki-laki di Kademangan ini hanya
empat puluh orang?”
“Kau benar Bramanti, seperti yang dikatakan Ki Tambi dan Ki Jagabaya.”
“Lalu apalagi yang kita tunggu?”
“Ki Demang.”
Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba saja ia bertanya,
“Bagaimana dengan Temunggul?”
Panjang mengerutkan keningnya. Meskipun nampaknya ragu-ragu tetapi ia
berkata, “Ia mempunyai pertimbangan lain. Sebaiknya kita tidak membuat
mereka marah. Jika mereka marah, maka mereka akan dapat berbuat apa
saja. Bahkan mungkin mereka akan menculik gadis-gadis. Tawanan yang pernah
kami lepaskan itu ternyata menepati janjinya. Sampai sekarang Wanda
Geni tidak pernah berusaha mengganggu gadis-gadis kita. Nah, kalau kita
mulai dengan tindakan-tindakan yang menyakitkan hati mereka, maka mungkin
sekali hal itu akan terulang kembali.”
“Ah,” Bramanti berdesah. “Ia selalu dibayangi oleh gadis-gadis. Ia
tidak pernah berpikir tentang Kademangan ini dalam keseluruhan.
Panjang tidak menyahut, tetapi justru ia bertanya, “Bramanti.
Seandainya kita benar-benar melakukan perlawanan atas orang-orang yang menjadi
utusan Panembahan Sekar Jagat itu, apakah yang kira-kira akan kau
lakukan?”
Bramanti tergagap sesaat.Ia sama sekali tidak menduga bahwa ia akan
menerima pertanyaan demikian itu. Namun sejenak kemudian dijawabnya
sekenanya, “Aku akan berbuat apa saja menurut kemampuanku.”
“Apakah kau berani berkelahi melawan mereka juga?”
Sekali lagi Bramanti menjadi tergagap. Dan sekali lagi sekenanya ia
menjawab, “Aku berani berkelahi melawan orang-orang itu. Kalah atau menang
bukan soal bagiku.” (Berasambung)-m
Posted on November 30th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 529 Views





Leave a Reply