Tanah Warisan 096
12 Nopember 2001, Panjang tersenyum. Ditepuknya pundak Bramanti sambil bergumam, “Kau memang seorang yang luar biasa. Sudahlah, aku akan pergi ke Kademangan.” Tetapi sebelum Panjang melangkahkan kakinya, tiba-tiba ia terkejut. Ia melihat beberapa orang berlari-lari. Sambil terengah-engah salah seorang dari mereka berkata, “Utusan Panembahan Sekar Jagat telah datang lagi.”
Panjang menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang wajah Bramanti,
dilihatnya anak muda itu mengatupkan giginya rapat-rapat.
“Setelah itu telah datang lagi, “ gumam Bramanti. Kemudian ditariknya
Panjang masuk ke dalam regol rumahnya. Sambil menutup regol ia berkata,
“Mereka tidak akan singgah ke rumahku ini.”
Panjang tidak membantah. Ia berdiri melekat dinding regol di sebelah
dalam.
“Apakah yang akan mereka lakukan? Apakah mereka akan mengambil harta
benda lagi, atau sekadar mengambil Ratri,” desis Panjang.
Bramanti tidak menjawab. Namun wajahnya menegang.
Mereka berdua masih mendengar beberapa orang berlari-lari. Sejenak
kemudian jalan itu telah menjadi sepi.
“Sebentar lagi mereka akan lewat,” desis Panjang.
Bramanti menganggukkkan kepalanya sambil berdesis, “Ya. Aku telah
mendengar derap kaki kuda.”
Panjang mengerutkan keningnya. Baru ketika ia masang telinganya
tajam-tajam dan kuda-kuda itu menjadi semakin dekat, ia pun mendengar derap
kaki-kaki kuda itu pula.
Panjang kemudian menahan nafasnya ketika kuda-kuda itu lewat di depan
regol rumah Bramanti. Tetapi seperti kata-kata Bramanti, mereka tidak
akan singgah ke rumah yang meskipun besar itu, tetapi yang sejak beberapa
tahun terakhir telah menjadi kosong. Kosong sama sekali. Karena itu,
maka mereka sama sekali tidak pernah menaruh minat atas rumah itu,
karena mereka tahu bahwa mereka tidak akan menemukan apapun juga di
dalamnya, selain labah-labah yang berwarna hitam.
Ketika kuda-kuda itu kemudian menjauh, maka Panjang dan Bramanti pun
menarik nafas dalam-dalam. Sejenak mereka masih berdiri saja ditempatnya.
Namun sejenak kemudian Bramanti berkata, “Panjang apakah kita akan
tetap berada di halaman ini saja?”
“Apa salahnya,” berkata Panjang. “Bukankah mereka tidak akan singgah di
rumah ini?”
“Ya. Menurut perhitunganku pasti tidak. Tetapi entahlah apabila
ternyata ada persoalan lain.”
“Persoalan apakah yang kau maksud?”
“Apakah kira-kira mereka telah mendengar ceritera tentang kakang
Panggiring?”
Panjang mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menggelengkan
kepalanya, “Entahlah. Aku kira mereka masih belum mendengar.”
“Tetapi siapa tahu, bahwa ada di antara kita yang memang menjadi alat
Panembahan Sekar Jagat.”
Lalu apakah dengan demikian, seandainya mereka mengetahui persoalan
Panggiring, akan dapat menimbulkan masalah baru bagi keluargamu?”
“Hal itu akan mungkin sekali. Kakang Panggiring adalah seorang perampok
seperti Panembahan Sekar Jagat. Sedang kakang Panggiring adalah anak
Kademangan ini sejak bayinya.”
“Lalu apakah hubungannya dengan kedatangannya kemari?”
Posted on November 30th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 206 Views





Leave a Reply