Tanah Warisan 097

13 Nopember 2001,  “Mungkin Panembahan Sekar Jagat ingin membuktikan kebenaran berita itu, dan ingin bertanya kepada ibu. Mungkin juga karena Panembahan Sekar Jagat mencemaskan, kalau-kalau kakang Panggiring akan pulang, dan akan menjadi saingan mereka untuk selanjutnya selain seseorang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar.”

Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kemungkinan itu memang ada
meskipun kecil sekali.”
“Tetapi, tetapi aku menjadi sangat gelisah, Panjang.”
“Kenapa?”
“Bagaimana kalau mereka nanti akan datang kemari?”
“Kenapa. Jawab saja pertanyaannya.”
“Tetapi mereka terlampau buas. Kadang-kadang mereka memukul seseorang
tanpa sebab.”
Panjang mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba ia berkata, “Bukankah kau
akan berbuat apa saja menurut kemampuanmu?”
“Tetapi bukan seorang diri. Kalau kita bersama-sama telah mulai,
apaboleh buat. Tetapi bukan aku sendiri.”
Panjang menjadi heran melihat sikap itu. Ia merasakan ketidakwajaran
pada Bramanti. Tidak mungkin bahwa tiba-tiba menjadi menggigil ketakutan,
sedang ketika derap kuda itu mendekat, ia tampak begitu tenang dan
bahkan seolah-olah begitu yakin akan dirinya.
Tetapi Panjang pun yakin, bahwa apabila ia bertanya tentang hal itu,
Bramanti pasti tidak akan menjawabnya. Karena itu, maka bahkan ia
bertanya, “Lalu seandainya demikian, apa yang kau sangka itu benar-benar
terjadi, apakah yang akan kau lakukan?”
Bramanti berdiam sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Aku akan
bersembunyi saja Panjang.”
“Dimana kau akan bersembunyi?”
“Aku akan ke bendungan.”
“Bodoh kau,” hampir saja Panjang berteriak, “Kalau kau pergi ke tempat
terbuka, maka kau akan segera dilihatnya. Ada banyak kemungkinan yang
dapat terjadi atasmu.”
“Tetapi, apakah mereka akan sampai ke bendungan itu juga?”
“Mungkin sekali. Meskipun mereka tidak sengaja pergi ke bendungan,
namun mereka mungkin sekali lewat menyusur jalan sempit di dekat bendungan,
yang kemudian menyilang parit induk dari air yang naik ke bendungan
itu.”
“Kau agaknya sedang bermimpi. Mereka adalah orang-orang yang aneh.
Mereka sama sekali tidak menghargai nilai-nilai kemanusiaan sama sekali.”
“Tetapi, bagaimanapun juga aku takut Panjang.”
“Kalau begitu, marilah, aku antar kau bersembunyi.”
“Kemana?”
“Terserah kepadamu. Tetapi sebaiknya tidak ke tempat yang terbuka.”
“Jangan Panjang. Aku tidak mau membuatmu bersusah payah. Kita sudah
sama-sama dewasa. Marilah kita berusaha menyelamatkan diri kita sendiri.”
“Aku tidak akan sampai hati melepaskan kau seorang diri dalam keadaan
serupa ini Bramanti. Kau akan mati ketakutan apabila suatu saat kau
bertemu dengan orang-orang Panembahan Sekar Jagat itu.”
“Tapi sebaiknya kau tetap berada di sini Panjang. Tolong, kawanilah
ibuku.”
“Kalau mereka benar-benar datang kemari, apakah kataku kemudian?”

Leave a Reply