Tanah Warisan 098

14 Nopember 2001,  “Sejak semula aku sudah menyangka, bahwa ia sama sekali bukan seorang yang lemah, tidak berkemampuan dan apalagi cengeng, seperti yang
dituduhkan oleh Temunggul,” gumamnya kepada diri sendiri. “Agaknya Temunggu tidak mengenal Bramanti dari dekat. Pada suatu ketika ia akan menyesali semua sikap-sikapnya. Juga Suwela yang telah melecut Bramanti di arena.
Untunglah, saat itu bukan akulah yang harus berhadapan dengan Bramanti. Namun seandainya demikian aku akan minta maaf kepadanya.”

Panjang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasa bahwa ia akan
segera menemukan kesimpulan dari semua dugaannya itu.
Namunsudah sekian lama ia menunggu, Bramanti masih juga belum keluar
dari dalam rumahnya sehingga Panjang mulai menjadi gelisah. Sambil
berdesah ia berjalan hilir mudik di regol halaman itu. Setiap kali ia harus
berhenti, dan memperhatikan setiap gemerisik di luar regol. Ia pun
semakin lama menjadi semakin dirambat oleh kecemasan, kalau-kalau
orang-orang Sekar Jagat itu akan lewat lagi di jalan di depan regol itu.
“Ah, apa saja yang dilakukan Bramanti?” desisnya.
Akhirnya Panjang tidak sabar lagi. Ia pun kemudian berlari melintas
halaman dan masuk lewat pintu pringgitan.
“Bramanti, Bramanti,” ia memanggil. Tetapi tidak ada terdengar jawaban.

“Bramanti, Bramanti,” ia memanggil lebih keras.
Panjang terkejut ketika ia mendengar suara perempuan menyapanya, “Siapa
itu?”
“O, aku bibi, jawabnya ketika ia melihat ibu Bramanti mendatanginya.
“Kau Panjang?”
“Ya bibi. Aku mencari Bramanti.”
“Bramanti? Bukankah ia berada di halaman? Mungkin ia sedang
bersembunyi, bukankah orang-orang Panembahan Sekar Jagat datang ke Kademangan
ini.”
“Tetapi Bramanti baru saja masuk.”
“Ya, ia baru saja masuk. Dan ia minta diri untuk bersembunyi di halam
atau dimana saja. Aku kira ia pergi atau bersembunyi bersamamu.”
“Demikianlah seharusnya. Kami akan bersembunyi di bendungan selagi
mereka belum pergi. Dan Bramanti mengatakan, bahwa ia akan minta ijin lebih
dahulu kepada bibi. Tetapi aku menunggunya terlampau lama di regol
halaman, sedang Bramanti tidak juga muncul-muncul.”
Wajah perempuan tua itu menjadi berkerut-kerut, “Aneh,” katanya.
“Apakah ia masih berada di dalam rumah ini. Tetapi tidak mungkin. Ia pasti
akan mendengar kehadiranmu.”
Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini baru ia sadari, bahwa
sebenarnyalah Bramanti telah pergi seorang diri. Bramanti benar-benar tidak
mau perig bersamanya. Sehingga dengan demikian, maka Panjang pun telah
hampir dapat mengambil suatu kesimpulan, bahwa Bramanti bukanlah
sekadar seorang anak muda seperti yang dilihatnya sehari-hari. Namun dengan
demikian ia menyadarinya juga, bahwa Bramanti telah dengan sengaja
memulas dirinya sendiri.
Panjang tidak mengerti, apakah maksud Bramanti sebenarnya.
Kadang-kadang ia dihinggapi pula oleh berbagai macam pertanyaan. Namun
pertanyaan-pertanyaannya itu menjadi semakin kabur untuk dapat dicari jawabannya.
Perempuan tua yang masih berdiri termanggu-manggu dihadapannya itu
kemudian bertanya, “Mungkin kalian berselisih jalan. Bramanti pergi keluar
lewat pintu samping, kau masuk lewat pintu depan Panjang?”
“Ya, mungkin bibi. Memang mungkin.”
“Lalu bagaimana dengan kau?”
(Bersambung)-x

One Response to “Tanah Warisan 098”

  1. I posted about this earlier on my own web site. Your article has really given me some food for thought, I really feel you’ve gotten made many very intriguing points. I wish I’d found it earlier, previous to writing my very own post.

Leave a Reply