Tanah Warisan 100

16 Nopember 2001,  Panjang menjadi termenung sejenak. Kalau ia pergi menyusul, apakah Bramanti benar-benar pergi ke Bendungan? Tetapi yang sebenarnya paling
baik justru berada di rumah Nyai Pruwita itu. Orang-orang Panembahan Sekar Jagat pasti tidak akan singgah ke dalamnya.
“Kalau Bramanti memang telah pergi, biarlah aku tinggal disini saja
bibi. Aku kira orang-orang itu tidak akan masuk kemari.”
“Ya, ya Panjang. Sebenarnya Bramanti pun tahu, bahwa orang-orang itu
tidak akan masuk kemari. Tetapi hatinya terlampau kecil, sehingga ia
minta diri untuk pergi. Memang mungkin ia bergi ke bendungan.”
“Baiklah bibi. Aku minta ijin untuk berada di dalam rumah ini sampai
orang-orang itu pergi meninggalkan Kademangan.”
“Silakan ngger. Silakan. Aku senang sekali menerima mu. Karena aku
mendapat seorang teman,” perempuan itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Duduklah seenaknya. Kau adalah satu-satunya teman Bramanti yang terdekat.
Tunggulah ia dipringgitan ini. Kalau ia nanti datang kembali dan
melihat kau disini, ia akan menjadi malu.”
“Terima kasih bibi.”
“Aku akan melanjutkan kerjaku di dapur. Merebus air.”
“Silakan bibi.”
Perempuan tua itu pun kemudian meninggalkan Panjang seorang diri.
Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia memandangi setiap sudut rumah
Bramanti. Masih tampak bekas-bekas kemegahan dari rumah itu. Ompak batu dari
tiang-tiang yang besar berukir dibagian bawah dan atasnya. Adon-adon
yang bagus akan mapan.
Beberapa saat yang lalu rumah ini telah mirip seperti rumah hantu.
Tetapi kini telah terjadi bersih kembali, meskipun masih tetap suram.
“Hem,” Panjang menarik nafas dalam-dalam. “Rumah ini pernah menjadi
pusat pemerintahan Kademangan Candi Sari. Tetapi kini rumah ini telah
dijauhi oleh hampir setiap penghuni Kademangan ini karena kesalahan paman
Pruwita. Kekayaannya telah habis dilingkaran judi. Bahkan kemudian
namanya dan nyawanya telah dipertaruhkannya pula. Yang tinggal kini adalah
sisa-sisa yang buram.
Namun tiba-tiba terbersit suatu pertanyaan yang aneh didada Panjang,
“Apakah maksud Bramanti sebenarnya dengan segala macam tingkah laku dan
segala macam rahasia yang diselubungikan pada dirinya itu? Sikapnya yang
pura-pura dan tidak dapat diikutinya itu?”

Leave a Reply