Tanah Warisan 101
17 Nopember 2001, Dan tiba-tiba Panjang menjadi terperanjat sendiri ketika ia mendengar suara hatinya. “Apakah semuanya ini hanya merupakan suatu persiapan
saja baginya? Persiapan dari tindakan balasan yang dahsyat atas kematian ayahnya? Bagaimana pun juga ia pasti tidak dapat melupakan peristiwa itu meskipun ia baru seumur kanak-kanak. Dapatkah ia begitu saja melewatkan peristiwa yang telah menghancurkan seluruh kehidupan keluarganya itu?
Apabila ternyata Bramanti mempunyai kemampuan seperti yang aku duga,
yaitu menyelematkanku di saat-saat aku hampir diterkam maut, maka pada
saatnya ia pasti akan dapat banyak berbuat untuk melepaskan sakit
hatinya.”
Dan ternyata Panjang telah digelisahkan oleh suara-suara di dalam
dirinya itu, sehingga peluh dingin telah membasahi badannya.
“Tetapi,” ia mencoba mencari keseimbangan pikiran, “Apabila demikian,
apakah untungnya ia menolong aku dan Suwela yang sudah jelas
menghinakannya dimuka banyak orang pada saat pendadaran?”
Namun Panjang sama sekali tidak dapat mengambil kesimpulan apapun
selain menganggap Bramanti sebagai seorang yang menyembunyikan dirinya
dibalik rahasia yang tebal.
Tetapi Panjang itu pun menyadarinya, bahwa hanya dirinya sendirilah
yang selama ini selalu diganggu oleh berbagai macam pertanyaan tentang
Bramanti. Kawan-kawannya yang lain, bahkan Temunggul, Suwela dan para
pemimpin Kademangan, sama sekali tidak pernah dirisaukan oleh sikap
Bramanti itu, justru mereka sama sekali tidak tahu menahu tentang rahasia yang
selama ini ia meliputinya.
Panjang terkejut ketika ia mendengar langkah memasuki ruangan itu.
Ketika ia berpaling dilihatnya ibu Bramanti menjinjing semangkuk air panas.
“Ah,” desis Panjang. “Aku agaknya membuat bibi menjadi sibuk.”
“Tidak, tidak Panjang. Adalah kebetulan sekali aku sedang merebus air.
Minumlah, sambil menunggu Bramanti.”
“Terima kasih bibi,” jawab Panjang.
“Memang bagi Bramanti, bendungan adalah tempat yang paling aman.
Orang-orang Panembahan Sekar Jagat, pasti tidak akan pergi atau lewat dekat
bendungan itu.”
“Ya bibi. Aku pun sebenarnya ingin pergi ke bendungan itu pula bersama
Bramanti. Tetapi agaknya Bramanti tidak sempat menunggu aku.”
“Tinggallah disini. Aku yakin, bahwa mereka tidak akan memasuki halaman
ini.”
“Terima kasih bibi.”
“Minumlah. Aku masih akan menyelesaikan pekerjaan di dapur.”
Kembali Panjang duduk seorang diri. Dan kembali angan-angannya ke dunia
yang tidak dapat dirabanya dengan pasti.
Sementara itu, Wanda Geni dan ketiga kawannya sedang sibuk mengumpulkan
barang-barang berharga yang masih tersisa di Kademangan itu. Seperti
biasanya, ia selalu membentak dan berteriak. Bahkan kadang-kadang ia
terpaksa memukul dan mengancam.
Namun akhirnya Wanda Geni itu pun menjadi puas. Setelah cukup banyak
menurut perkiraannya, dan tidak akan mengecewakan Panembahan Sekar Jagat,
maka Wanda Geni pun kemudian bersiap-siap untuk meninggalkan
Kademangan itu.
Tetapi sambil termangu-mangu ia berdesis, “Aku masih mempunyai satu
simpanan lagi di Kademangan ini.”
“Apa?” bertanya salah seorang kawannya.
“Seorang gadis.”
“Ah,” desah kawannya yang lain, “Sebaiknya untuk sementara gadis itu
kau lupakan. Kalau tidak terjadi sesuatu atas kita, maka Panembahan Sekar
Jagat tidak akan mempersoalkannya. Tetapi apabila dengan demikian
timbul kesulitan, maka Panembahan pasti akan marah kepadaku.”
Posted on November 30th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 213 Views





Leave a Reply