Tanah Warisan 102
18 November 2001, Wanda Geni mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia menggeram, “Tetapi aku adalah manusia biasa. Manusia yang memiliki nafsu kemanusiaan yang
lengkap. Mungkin Panembahan Sekar Jagat adalah seorang yang memiliki
kekurangan, sehingga ia sama sekali tidak memerlukannya lagi?”
“Ah,” Wanda Genilah yang kemudian berdesah. “Baiklah. Aku menuruti
nasihat kalian kali ini. Tetapi aku ingin melihat, apakah ia masih ada di
rumahnya.”
“Itu sama sekali tidak perlu,” sahut kawannya yang seorang. “Dengan
demikian Ratri akan menjadi semakin ketakutan. Sehingga apabila pada suatu
ketika kau mendapat kesempatan, Ratri telah jauh mengungsi ke tempat
yang tidak kau ketahui.”
Wanda Geni mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun kemudian
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah. Baiklah. Aku akan kembali tanpa menemui
gadis itu. Tetapi aku akan lewat saja di depan rumahnya. Mungkin aku akan
dapat melihat sekilas.”
Tidak seorang pun ang akan menunggu kita lewat di regol halamannya.
Semua orang menutup pintunya, dan semua orang berusaha untuk menghindar.
Apalagi seorang gadis. Apakah kau kira Ratri akan menunggu kita lewat
didepan rumahnya, kemudian melambaikan tangannya sambil tersenyum?”
“Baiklah, baiklah,” Wanda Geni berteriak. “Aku akan kembali. Aku tidak
akan memikirkan gadis itu lagi,” ia berhenti sejenak, namun kemudian
dilanjutkannya, “Meskipun hanya untuk sementara.”
Ketiga kawannya saling berpandangan sejenak. Kemudian mereka pun
tersenyum.
“He, kenapa kalian tersenyum,” bentak Wanda Geni.
“Tidak apa-apa,” sahut salah seorang dari mereka.
Wanda Geni mengerutkan keningnya. Namun sejenak kemudian dilecutkan
kudanya. Kuda yang terkejut itu pun segera meloncat dan berlari seperti
dikejar hantu. Sedang kawan-kawannya pun kemudian segera menyusulnya
pula.
Sejenak kemudian, maka kuda-kuda itu pun berderap di atas jalan-jalan
Kademangan Candi Sari. Setiap orang yang mendengar derap itupun
menghindari, bahwa hari ini kekayaan Kademangan Candi Sari telah berkurang
lagi. Tetapi seperti biasanya, mereka pun hanya sekadar mengelus dada tanpa
berbuat sesuatu. Bahkan para pengawal pun sama sekali tidak berbuat
apapun.
Betapa Ki Jagabaya menahan deru perasaannya, tetapi suatu kenyataan, ia
pun tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak dapat melanggar perintah
Demangnya. Untuk kepentingan ketentraman hidup rakyatnya, maka Kademangan
Candi Sari jangan mencoba menghalang-halangi tindakan Panembahan Sekar
Jagat itu.
Tetapi di antara sekian banyak orang-orang Candi Sari, ada seorang yang
berpendirian lain. Orang itu adalah Tambi. Meskipun baru beberapa hari
ia berada di Kademangan itu, setelah merantau sekian lamanya, namun ia
menjadi sangat berprihatin melihat keadaan yang sama sekali tidak
dikehendaki.
Namun ia hanya seorang diri. Sudah tentu ia tidak akan dapat melawan
orang-orang Panembahan Sekar Jagat itu. Apalagi Sekar Jagat sendiri.
Tetapi apabila seluruh Kademangan ini bangkit bersama-sama, maka menurut
perhitungan Tambi, semuanya akan dapat diatasi, setidak-tidaknya
dibatasi.
Dalam kegelisahan itu, tiba-tiba teringat kepada sebuah lencana yang
diterimanya dari Panggiring. Sebuah ukiran Candi kecil dari perak yang
berwarna kehitam-hitaman.
“Apakah Panembahan Sekar Jagat mengenal lencana ini pula seperti
gerombolan-gerombolan lain di pesisir Utara?” pertanyaan itu tumbuh
dihatinya.
Tetapi Tambi tetap ragu-ragu.
Namun tiba-tiba ia mengambil suatu keputusan, “Aku harus mengetahui ke
mana orang-orang itu pergi. Mungkin aku akan menghadap langsung orang
yang menyebut dirinya Panembahan Sekar Jagat untuk menunjukkan lencana
ini. Mungkin mempunyai pengaruh, setidak-tidaknya mendapat perhatiannya.
Tetapi apabila keduanya merupakan saingan dan musuh bebuyutan,
taruhannya adalah leher dan kepalaku. Tetapi setiap usaha pasti mempunyai
beberapa kemungkinan. Yang pahit dan yang manis.”
Dan tiba-tiba saja Tambi itu pun berlari ke kandang kudanya. Kuda yang
dipeliharanya baik-baik sejak ia masih di dalam perjalanan
perantauannya.
Panjang yang masih berada di rumah Bramanti menahan nafas ketika ia
mendengar derap kaki-kaki kuda semakin lama semakin mendekat. Jantungnya
pun serasa berhenti berdenyut ketika kuda-kuda itu berlari dengan
kencangnya lewat di jalan sebelah rumah Bramanti itu, seperti ketika mereka
baru datang.
Posted on November 30th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 505 Views





Leave a Reply