Tanah Warisan 103

19 Nopember 2001,  Namun sejenak kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Kuda itu semakin lama menjadi semakin jauh. Dan sejenak kemudian derap itu seolah-olah lenyap ditelan gemerisiknya dedaunan yang ditiup angin.  “Mereka telah pergi” terdengar ia bergumam.
Dan Panjang pun terperanjat pula ketika ia mendengar seseorang
menyahut, “Ya, mereka telah pergi. Sebentar lagi Bramanti akan datang kembali.”

“Tetapi darimana ia tahu kalau orang-orang Panembahan Sekar Jagat itu
telah pergi?”
Perempuan tua, ibu Bramanti itu mengerutkan keningnya. “Ya. Ia tidak
akan segera tahu. Tetapi ia akan melihat, jalan-jalan tidak lagi menjadi
terlampau sepi. Apabila satu dua orang telah tampak di jalan-jalan atau
di pematang sawah, maka Bramanti akan dapat menduga, bahwa orang-orang
itu telah meninggalkan Kademangan ini.”
Panjang mengerutkan keningnya. Setelah merenung sejenak, maka ia pun
berkata, “Aku akan menyusulnya dan mengajaknya pulang. Itu barangkali
lebih baik baginya daripada ia menunggu.”
Ibu Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Tentu itu lebih
baik apabila kau tidak berkeberatan ngger.”
Panjang pun kemudian berdiri sambil berkata, “Aku minta diri bibi. Aku
akan pergi ke bendungan.”
“Silakan ngger.”
Panjang pun kemudian tidak menunggu lebih lama lagi. Banyak persoalan
yang mendorongnya untuk pergi. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia
menuruni tangga pendapa dan langsung menuju ke regol halaman. Sejenak ia
berdiri termangu-mangu. Namun sejenak kemudian ia pun segera
melangkahkan kakinya menyusur jalan ke bendungan.
Tetapi dadanya bergetar ketika ia mendengar pula derap kuda yang
semakin lama menjadi semakin dekat.
Tanpa sesadarnya, Panjang segera berbelok masuk ke regol halaman yang
terdekat. Sambil melekatkan tubuhnya ke pintu regol ia mencoba
mengintip, siapakah yang tertinggal di antara orang-orang Panembahan Sekar
Jagat.
Namun hatinya berdesir ketika ia melihat Ki Tambi sedang memacu
kudanya. Sesuatu yang sama sekali tidak disangka-sangkanya, sehingga ia tidak
sempat berbuat apa-apa selain memandanginya dengan mulut ternganga.
Panjang menarik nafas dalam-dalam ketika kuda yang membawa Ki Tambi itu
hilang ditikungan. Dengan tergesa-gesa ia melangkah ke luar regol.
Namun ia sudah tidak melihat apapun lagi.
“Aneh,” desisnya, “Apakah Ki Tambi seorang diri akan mengejar
orang-orang Panembahan Sekar Jagat itu?”
Panjang menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian ia berdesis. “Semakin
lama semakin banyak masalah yang tidak aku ketahui. Kepalaku menjadi
pening memikirkannya.”
Panjang pun kemudian meneruskan langkahnya sambil bergumam. “Lebih baik
aku pergi ke bendungan saja menemui Bramanti. Mungkin ia dapat
menjawab pertanyaanku, kemana kira-kira Ki Tambi akan pergi.”
Namun, meskipun demikian di sepanjang jalan Panjang masih saja
berteka-teki, meskipun ia yakin bahwa ia tidak akan dapat menemukan jawabnya.
Beberapa ratus langkah lagi ia sudah akan sampai ke bendungan. Kini ia
meniti jalan sempit yang agak licin karena sebuah parit yang meluap.
Kemudian ia menuruni tebing sungai yang tidak begitu curam. Sebentar
kemudian ia sudah berada di atas bendungan.
Dada Panjang menjadi berdebar-debar. Ternyata di bendungan itu terdapat
beberapa orang kawan-kawannya. Bahkan Temunggul dan Suwela pun berada
di tempat itu juga.
“He, apa kerja kalian disitu?” bertanya Panjang.
Temunggul mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menjawab, “Apakah
kau tidak tahu, bahwa Wanda Geni baru saja mendatangi pedukuhan kami?
Dimana kau selama ini bersembunyi?” (Bersambung)-c

Leave a Reply