Tanah Warisan 104

20 Nopember 2001,  “Kenapa harus bersembunyi?” bertanya Panjang.
“Jangan sombong,” sahut Suwela, “Kalau kau bertemu dengan Wanda Geni,
setidak-tidaknya punggungmu akan babak belur. Ia sangat benci kepada anggota-anggota pengawal. Apalagi sejak Temunggul mulai melakukan perlawanan.
“Tetapi perhatian mereka sepenuhnya tertuju kepada benda-benda berharga
yang mereka cari. Mereka tidak memperhatikan kita, apabila kita tidak
berbuat apa-apa.”
“Ya, begitulah. Tetapi dimana kau selama ini?”
“Aku berada di ujung desa,” sahut Panjang seolah-olah
bersungguh-sungguh. “Aku melihat Wanda Geni berbelok masuk ke halaman rumah Ratri.”
“He,” tiba-tiba wajah Temunggul menjadi tegang.
“Ya, Wanda Geni masuk ke dalam rumah Ratri,”
“Apa yang dilakukannya?”
“Aku tidak tahu.”
Wajah Temunggul menjadi seakan-akan membara. Tetapi ia masih diliputi
oleh keragu-raguan untuk berbuat sesuatu. Namun ia menjadi heran ketika
ia melihat Panjang tertawa. Katanya, “Jangan menjadi bingung, Wanda
Geni tidak singgah ke rumah Ratri.”
Tetapi wajah Temunggul yang tegang masih juga tegang. Sejenak kemudian
terdengar ia menggeram, “Manakah yang benar, Panjang?”
“Aku hanya bergurau. Wanda Geni telah pergi tanpa singgah ke rumah
itu.”
Tetapi Panjang menjadi heran karena wajah Temunggul masih saja tegang.
“Kau jangan bermain-main Panjang,” suara Temunggul bergetar, “Kalau kau
bermaksud bergurau, maka kau telah berbuat kesalahan. Kau sudah
terlampau jauh bergurau tanpa memikirkan akibatnya.
Panjang mengerutkan keningnya.Ia tidak menyangka bahwa dengan demikian
Temunggul akan menjadi marah. Karena itu, untuk menghindari
kesalah-pahaman selanjutnya ia berkata, “Baiklah, aku minta maaf Temunggul. Aku
sebenarnya hanya ingin bergurau. Kalau sendau gurauku itu ternyata
terlampau jauh menurut penilaianmu, baiklah aku tarik kembali kata-kataku.”
“Begitu mudahnya kau minta maaf,” geram Temunggul. “Hal ini adalah
suatu hal yang besar bagi Kademangan kami. Kami adalah pengawal-pengawal
yang harus melindungi ketentraman hati setiap orang di wilayah Kademangan
ini. Sedang hal itu masih saja kau anggap permainan yang tidak
berarti.
Panjang tidak menjawab lagi. Ia menyadari keadaannya. Kalau ia masih
mengucapkan sepatah kata saja, maka Temunggul akan menjadi semakin marah.

“Jadi bagaimana dengan orang-orang itu sebenarnya?” bertanya Temunggul
kemudian dalam nada yang datar.
“Mereka telah pergi,” jawab Panjang hati-hati.
“Apa saja yang mereka bawa?”
“Aku tidak tahu.”
Temunggul pun kemudian termenung sejanak. Lalu, “Marilah kita lihat.
Apakah yang telah mereka rampas dari penduduk. Kita tidak akan dapat
membiarkan hal serupa ini terjadi untuk seterusnya. Pada suatu ketika kita
harus bertindak.”
Tidak seorang pun yang menyahut.
“Marilah,” desis Temunggul kemudian sambil melangkah naik tebing.
Kawan-kawannyapun kemudian mengikutinya. Ketika Suwela berjalan
beberapa langkah di depan Panjang, maka Panjang pun mendekatinya sambil
berbisik. “Apakah Bramanti pergi ke bendungan ini juga?”
Suwela mengerutkan keningnya, “Kenapa kau tanyakan Bramanti?”
“Tidak apa-apa. Tetapi apakah ia kemari juga?”
Suwela menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak melihatnya. Apakah
ada perkembangan keadaan yang aneh padanya? Dan apakah kau
mencurigainya, bahwa ia telah berhubungan dengan orang-orang Panembahan Sekar
Jagat.”

Leave a Reply