Tanah Warisan 084

31 Oktober 2001,  “Ah, itu tidak perlu Ratri. Bukankah seorang telah menolongmu.”
“Ya, Putut Sabuk Tampar, darimana kau tahu?”

Tanah Warisan 083

30 Oktober 2001,  BRAMANTI mengangguk-anggukkan kepalanya. “Terima kasih Panjang. Aku akan menyampaikannya kepada ibu, bahwa Ki Tambi akan menemuinya dan berbicara tentang Panggiring.”

Tanah Warisan 082

29 Oktober 2001,  “OH” Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku sudah mengenalnya. Ia termasuk orang dekat dengan keluarga kamu.”

Tanah Warisan 081

28 Oktober 2001,  NAMUN sebagai seorang ibu, ternyata perempuan tua itu merasakan sesuatu yang tidak wajar di dalam hati anaknya.

Tanah Warisan 080

27 Oktober 2001,  Malam itu Temunggul hampir tidak dapat tidur sekejappun. Ia selalu
dibayangi oleh harapan-harapan dan kecemasan-kecemasan. Ia belum dapat
meyakinkan sikap Ratri kepadanya.

Tanah Warisan 079

26 October 2001,  “Sayang istrinya kawin lagi dengan seorang laki-laki yang bernama
Pruwita itu,” berkata ayah Ratri seterusnya, “Sehingga akhirnya Janda
Pruwita pun termasuk orang yang kita hormati di Kademangan ini.

Tanah Warisan 078

25 Oktober 2001,  Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Siang hari tidak akan berani
berdiri di depan rumah itu. Kalau Temunggul melihatnya, maka hal itu pasti
akan menjadi persoalan yang berlarut-larut.

Tanah Warisan 077

24 Oktober 2001,  Panjang menarik nafas dalam-dalam. “Selamat malam Bramanti. Apakah nanti malam kau tidak akan keluar halaman rumah ini.”

Tanah Warisan 076

23 Oktober 2001,  “Tetapi Temunggul tidak bertempur karena ia seorang pengawal
Kademangan. Ia berkelahi karena ia ingin membela Ratri,” Bramanti berhenti
sebentar, lalu, “Itu tidak wajar Panjang.

Tanah Warisan 075

22 Oktober 2001,  “Ratri.”
“Kenapa dengan Ratri?”
“Apakah kau sama sekali tidak mendengarnya?”