Tanah Warisan 074
21 Oktober 2001, “Jangan bermimpi Ki Jagabaya,” potong Ki Demang, “Kita sama sekali
tidak memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu.”
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
21 Oktober 2001, “Jangan bermimpi Ki Jagabaya,” potong Ki Demang, “Kita sama sekali
tidak memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu.”
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
20 Oktober 2001, Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia berpaling kepada Temunggul yang duduk pula di antara mereka. Katanya, “Jawablah persoalan
yang dikatakan oleh ayah gadis yang menjadi masalah itu.”
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
19 Oktober 2001, “Orang itukah yang telah disebut-sebut Ratri sebagai salah seorang
pembantu Wanda Geni yang terluka?” pertanyaan itu tumbuh di dalam hatinya.
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
18 Oktober 2001, TIBA-TIBA wajah ayah Ratri menjadi tegang. Dengan serta merta ia
berkata lantang, “Nah, bukankah aku sudah berkata, jauh sebelum peristiwa ini
terjadi.
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
17 Oktober 2001, “Aku kurang tidur ibu. Sampai hampir pagi aku memang tidak dapat tidur karena kelelahan. “Kau aneh,” jawab ibunya. “Orang yang lelah biasanya akan dengan mudahnya tertidur.”
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
15 October 2001, “Tidak ayah. Aku lelah sekali. Aku ingin segera tidur.
Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ditinggalkannya pintu bilik
anaknya.
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
14 Oktober 2001, “Kami para pengawal telah membagi kerja paman.”
“Terima kasih ngger, “ dan sekali lagi laki-laki tua bergumam. “Terima
kasih.”
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
13 Oktober 2001, MESKIPUN Ratri tidak menduga, namun kata-kata Temunggul yang berterus terang itu telah menggoncangkan dadanya. Sejenak ia berdiri membeku
ditempatnya.
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
12 Oktober 2001, DEMIKIANLAH maka mereka menyusuri jalan sempit yang menuju ke rumah ketiga gadis-gadis itu. Tetapi dengan demikian, maka yang terakhir dari
ketiganya sampai di muka regol rumahnya adalah Ratri.
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
11 Oktober 2001, RATRI pun segera menyadari keadaannya. Karena itu meskipun kakinya bmasih gemetar, dipaksanya dirinya untuk berdiri bersama-sama kedua
kawannya.
Posted on November 29th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »