Tanah Warisan 105

21 Nopember 2001,  “O, tidak. Tentu tidak.”
“Lalu apakah kepentinganmu?”“Aku bertemu dengan anak itu. Ketika aku bertanya kepadanya ia menjawab, bahwa ia ingin bersembunyi saja di bendungan sambil mencuci kain panjangnya.”
Suwela menggelengkan kepalanya, “Tidak. Seandainya pergi juga ke
bendungan, maka ia tidak akan berani turun dan berkumpul bersama kami. Anak
itu pasti menjadi bahan yang segar untuk melupakan lelah.”
Panjang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sudah tidak bertanya
apa-apa lagi. Ia mengikuti saja mereka yang berjalan berurutan seorang demi
seorang.
“Bramanti pasti tidak akan berada bersama-sama dengan mereka,” gumam
Panjang di dalam hatinya. Tetapi tidak ada seorang pun yang dapat
diajaknya untuk berbincang-bincang. Bahkan kawan-kawannya itu pun pasti akan
mentertawakannya apabila ia menyatakan sesuatu tentang teka-teki yang
mengamuk di dalam kepalanya.
“Tetapi kemanakah anak itu?” bertanya Panjang kepada diri sendiri.
Sekali lagi sepercik kecurigaan melanda dadanya. Namun ia masih juga
selalu berusaha untuk membuat keseimbangan. Ia tidak boleh berprasangka,
tetapi ia pun tidak dapat mempercayainya sebulat-bulatnya.
Temunggul pun berjalan semakin lama semakin cepat. Dengan
bersungguh-sungguh ia berkata, “Kita akan melihat, siapa saja yang kali ini menjadi
korban. Sudah tentu kita tidak akan berpeluk tangan untuk selanjutnya.
Sebab dengan demikian, maka Kademangan ini pada suatu ketika, tidak
akan lebih dari sebuah tanah pekuburan yang besar, dimana orang-orang yang
tinggal di dalamnya adalah orang-orang yang mati didalam hidupnya.
Orang-orang yang selalu diselubungi oleh ketakutan untuk berbuat,
berbicara dan menyatakan sesuatu.”
Kawan-kawan Temunggul pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang
dari mereka berkata, “Marilah kita langsung ke Kademangan. Mungkin
anggota pengawal dari golongan orang tua pun telah berbuat demikian.”
“Kita akan langsung bertindak,” jawab Temunggul sambil melangkah terus.

Ia tertegun ketika salah seorang dari mereka berkata, “He, Temunggul.
Kenapa kita akan berbelok ke jalan itu? Memang sebaiknya kita pergi ke
Kademangan. Kita akan menunggu perintah dari Ki Jagabaya, supaya kita
tidak keliru.”
Tetapi Temunggul tidak menjawab. Bahkan ia menggeram, “Ikuti aku. Siapa
yang menganggap harus segera sampai ke Kademangan aku persilakan
memilih jalan lain.”
Temunggul pun berjalan semakin lama semakin cepat. Dengan
bersungguh-sungguh ia berkata, “Kita akan melihat, siapa saja yang kali ini menjadi
korban. Sudah tentu kita tidak akan berpeluk tangan untuk selanjutnya.
Sebab dengan demikian, maka Kademangan ini pada suatu ketika, tidak
akan lebih dari sebuah tanah pekuburan yang besar, dimana orang-orang yang
tinggal di dalamnya adalah orang-orang yang mati didalam hidupnya.
Orang-orang yang selalu diselubungi oleh ketakutan untuk berbuat,
berbicara dan menyatakan sesuatu.”
Kawan-kawan Temunggul pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang
dari mereka berkata, “Marilah kita langsung ke Kademangan. Mungkin
anggota pengawal dari golongan orang tua pun telah berbuat demikian.”
“Kita akan langsung bertindak,” jawab Temunggul sambil melangkah terus.

Ia tertegun ketika salah seorang dari mereka berkata, “He, Temunggul.
Kenapa kita akan berbelok ke jalan itu? memang sebaiknya kita pergi ke
Kademangan. Kita akan menunggu perintah dari Ki Jagabaya, supaya kita
tidak keliru.”
Tetapi Temunggul tidak menjawab. Bahkan ia menggeram, “Ikuti aku. Siapa
yang menganggap harus segera sampai ke Kademangan aku persilakan
memilih jalan lain.”

Leave a Reply