Tanah Warisan 106

22 Nopember 2001,   Tidak seorang pun yang menjawab. Tetapi ketika Temunggul berbelok ke kiri maka kawannya pun saling berpandangan. Mereka segera mengetahui
maksud Temunggul. Ia akan berjalan melalui jalan di depan rumah Ratri.“Hem,” gumam Panjang, “Ternyata gadis itulah yang sebenarnya mendapat
perhatiannya yang terbesar. Baru kemudian orang-orang yang kehilangan
harta miliknya. Meskipun wajar, bahwa yang pertama-tama harus mendapat
perhatian adalah setiap orang di Kademangan ini, bukan barang-barangnya.
Tetapi cara yang dipakai oleh Temunggul agaknya terlampau kasar dan
kaku.”
Namun demikian, justru karena kawan-kawan Temunggul itu mengetahui
maksudnya, tidak seorang pun lagi yang mempersoalkan jalan yang mereka
lalui. Bagaimanapun juga Temunggul pasti tidak akan mau memilih jalan yang
lain.
Ketika mereka menjadi semakin dekat dengan rumah Ratri, maka
kawan-kawan Temunggul itu pun saling berpandangan sesaat. Tetapi tidak seorang
pun yang mengucapkan kata-kata. Meskipun demikian, mereka telah
menduga-duga di dalam hati mereka, bahwa yang pertama-tama akan didatangi oleh
Temunggul adalah rumah Ratri.
Hampir setiap orang menarik nafas dalam-dalam ketika Temunggul berhenti
di muka regol halaman rumah itu. Sejenak mereka berdiri diam menunggu,
apa yang akan dilakukan oleh Temunggul.
Temunggul pun agaknya menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya wajah
kawan-kawannya satu persatu. Seolah-olah ia ingin mengetahui, tanggapan
apakah yang ada di dalam setiap dada. Namun yang dilihat oleh Temunggul
adalah wajah-wajah yang kosong. Dan bahkan ada di antaranya yang
menjadi acuh tak acuh. Panjang. Panjang menganggap Temunggul terlampau banyak
dipengaruhi oleh kepentingan pribadinya. Dan menurut pendengaran, hal
itu pernah diucapkan oleh seseorang yang menyebut dirinya Putut Sabuk
Tampar dan yang pernah diucapkan oleh Bramanti.
“Kalau Bramanti itu seorang anak yang cengeng seperti yang tampak dalam
kehidupannya sehari-hari, ia tidak akan dapat mengatakan hal itu.
Apalagi kepadaku, sedang ia tahu bahwa aku adalah salah seorang anggota
pengawal Kademangan dibawah pimpinan Temunggul,” katanya dalam hati.
Panjang masih tetap tegak di tempatnya seperti kawan-kawannya yang lain
ketika Temunggul kemudian melangkah mendekati pintu regol. Sekali lagi
ia berhenti dan berkata kepada kawan-kawannya, “Tunggulah. Aku akan
melihat, apakah Wanda Geni singgah ke rumah ini.”
Tidak seorang pun yang menjawab. Mereka hanya memandang saja Temunggul
membuka pintu regol itu perlahan-lahan, kemudian melangkah masuk ke
halaman yang masih sepi. Agaknya orang-orang di dalam rumah itu masih
belum mengetahui, bahwa Wanda Geni telah meninggalkan padukuhannya.
Ketika Temunggul telah hilang dibalik pintu regol beberapa orang dari
kawan-kawannya itu berdesah sambil saling memandang. Sedang Panjang
berdesis, “Aku tidak menyangka Temunggul sekarang mudah sekali tersinggung
dan menjadi marah.”
“Tidak,” jawab Suwela, “Kalau kau tidak bergurau tentang Ratri.”
Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dengan lesunya ia
melangkah menepi. Lalu duduk di atas sebuah batu, bersandar dinding batu.
Tetapi ketika punggung dirayapi oleh puluhan semut hitam, ia pun segera
berdiri sambil mengumpat-umpat.
Namun tiba-tiba saja Panjang teringat kepada ibu Bramanti. Ia pasti
menunggunya dan bersama anak muda itu. Tetapi ternyata ia tidak
menemukannya. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya di dalam hatinya.
“Kemanakah anak muda itu pergi. Apakah tiba-tiba saja ia bertemu tanpa
dikehendaki oleh Wanda Geni, kemudian mendapat perlakuan yang tidak
sepantasnya, karena ia dikira hendak melawan atau melarikan dirinya?”
Namun sekilas kemudian terbayang Ki Tambi yang berpacu beberapa saat
setelah Wanda Geni meninggalkan Kademangan ini.
“O,” katanya di dalam hati “Aku menjadi semakin pening. Justru kami
para pengawal hanya sekadar berdiri dan duduk-duduk di pinggir jalan tanpa
berbuat sesuatu.
Tanpa sesadarnya, perlahan-lahan Panjang membuat
perbandingan-perbandingan antara Temunggul dan Bramanti. Meskipun dalam bentuk dan sikap
sehari-hari keduanya sama sekali tidak dapat diperbandingkan, namun Panjang
tidak mengerti, kenapa semakin lama ia semakin merasa dekat dengan
Bramanti. Meskipun kadang-kadang ia masih juga dihinggapi oleh kecurigaan
dan prasangka, namun di sudut hatinya Panjang mengharap, bahwa
dugaannya selama ini akan ternyata benar. Bramanti bukanlah sekadar seorang
anak muda yang cengeng. Tetapi sudah tentu ia sama sekali tidak mengharap,
bahwa rahasia itu sekadar menjadi pelindung dari maksud yang
sesungguhnya. Dendam. (Bersambung)-m

Leave a Reply