Tanah Warisan 107

Sat. December 1, 2007
Categories: Tanah warisan

23 Nopember 2001,  “Tetapi aku sama sekali tidak melihat bayangan dendam itu di matanya,” setiap kali Panjang berusaha menentramkan dirinya sendiri. Beberapa orang yang lain, berjalan mondar-mandir tidak menentu.
Suwela berdiri bersandar dinding regol. Sedang seorang kawannya yang lain mulai menghitung-hitung buah jambu pada sebatang pohonnya diseberang jalan.
Sejenak kemudian mereka serentak berpaling. Ternyata Temunggul telah
muncul dari balik pintu regol. Yang pertama-tama ditatapnya adalah wajah
Panjang.

Sekali lagi ia berkata, “Panjang. Lain kali aku minta kau agak
berhati-hati. Aku adalah seorang yang tidak berkeberatan untuk dibawa bergurau.
Tetapi kau harus dapat menempatkan diri.

Dalam keadaan yang bagaimana dan tentang apa.”
Panjang yang tidak ingin menjadikan soal itu berkepanjangan, sekali
lagi ia berkata, “Baiklah. Dan sekarang aku minta maaf untuk yang kedua
kalinya.”
“Yang penting bukanlah apakah aku akan memberi maaf itu atau tidak,”
berkata Temunggul kemudian, “Tetapi apakah kau tidak akan mengulanginya
lagi.”
Panjang tidak menjawab. Tetapi ia menjadi tidak senang apabila
Temunggul masih akan mempersoalkannya terus. Ia sudah minta maaf dan mengakui
kesalahannya.
“Ternyata halaman rumah ini disentuhpun tidak,” geram Temunggul
kemudian.
Panjang masih tetap berdiam diri.
“Sekarang marilah kita ke Kademangan. Kita lebih baik melakukan
hubungan dahulu dengan Ki Jagabaya sebelum kita berbuat sesuatu.”
Tidak seorang pun yang menyahut. Ternyata mereka pun harus pergi ke
Kademangan. Dengan demikian menjadi semakin jelas bagi kawan-kawannya,
bahwa Temunggul hanya sekadar ingin melihat rumah Ratri.
“Tetapi itu adalah hal yang lumrah,” salah seorang kawannya berbisik
kepada Panjang.
Panjang pun mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Temunggul baru tergila-gila kepada gadis itu. Kakakku pun dahulu
seperti itu juga ketika ia tergila-gila kepada isterinya itu sebelum kawin.
Apapun dilakukannya hanya untuk sekadar melihat istrinya itu, pada
waktu itu, sedang menyapu halaman.”
Panjang tersenyum. Kawannya itu pun tersenyum pula.
Temunggul bersama-sama dengan beberapa orang kawannya pun kemudian
pergi ke Kademangan. Disepanjang jalan itu Panjang masih juga
berdebar-debar. Ibu Bramanti pasti menunggunya dengan cemas. Karena itu, maka ia
bermaksud singgah meskipun hanya sebentar ke rumah Bramanti. Sehingga
kemudian, Panjang itu berkata kepada Temunggul yang berjalan di paling
depan, “Temunggul, aku akan mengambil jalan simpang ini. Aku ingin singgah
ke rumah kawanku sebentar. Kemudian aku akan menyusul ke Kademangan.”
Temunggul berhenti sejenak. Dipandanginya wajah Panjang. Sejenak
kemudian ia bertanya, “Kau akan singgah ke rumah siapa?”
Panjang menjadi ragu-ragu untuk mengucapkan nama Bramanti. Temunggul
dan sebagian kawan-kawannya sama sekali tidak senang mendengar nama itu.
Karena itu, maka sekenanya ia berkata, “Aku akan pergi ke rumah paman
Tambi. Aku mendapat pesan dari ayah untuk menemuinya sejenak.
“Apakah perlu sekali kau sampaikan pesan itu sekarang?”
“Bukankah aku hanya sekadar singgah sebentar? Kemudian aku akan segera
menyusulmu.”
“Apakah kau menjadi sakit hati, Panjang?” tiba-tiba Temunggul bertanya.

Dada Panjang berdesir. Namun ia menjawab, “Kenapa aku menjadi sakit
hati?”
“Mungkin kau tidak senang mendengar peringatan-peringatan yang aku
berikan itu.”
Panjang menggelengkan kepalanya, “Tidak. Sama sekali tidak.”
“Kalau kau tidak mau tersinggung Panjang, kau jangan memulai
menyinggung perasaan orang lain.”
“Sudah aku katakan, aku tidak menjadi sakit hati.”
“Aku akan melihat, apakah kau berkata sebenarnya.” (Bersambung)-m

Comments