Tanah Warisan 119

05 Desember 2001,  Ki Demang mengerutkan keningnya. Dipandanginya Tambi sejenak. Kemudian ia bertanya pula. “Apa yang telah terjadi atasnya?” Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “Putut Sabuk Tampar.”“He?” wajah Ki Demang menjadi tegang. “Orang itu telah muncul lagi. Ia
akan dapat mengeruhkan hubungan antara Kademangan Candi Sari dan
Panembahan Sekar Jagat. Selama ini tingkah laku Panembahan Sekar Jagat masih
dapat dibatasi. Tetapi kalau kemudian karena kemarahannya, perbuatannya
tidak dapat dikendalikan lagi, maka Kademangan ini akan menjadi abu.”
“Tetapi…..” Ki Tambi menjadi ragu-ragu. Ditatapnya wajah Ki Jagabaya.
Dilihatnya wajah itu menjadi tegang pula.
“Ki Demang,” berkata Ki Tambi kemudian, “Apakah kita untuk seterusnya
akan tetap dalam keadaan seperti ini? Apakah pada suatu ketika
Kademangan ini akan kita biarkan menjadi kering sama sekali diperas oleh
Panembahan Sekar Jagat.”
“Tentu tidak Ki Tambi,” jawab Ki Demang. Tetapi apa yang dapat kita
lakukan?”
“Kita belum pernah berbuat apa-apa,” tiba-tiba Ki Jagabaya menyahut.
“Memang barangkali lebih baik sekali-kali kita mencoba.”
“Itu terlampau bodoh,” berkata Ki Demang kemudian. “Kita jangan
mencoba-coba terhadap Panembahan Sekar Jagat. Taruhannya pasti akan terlampau
mahal. Mungkin kita dapat mengikhlaskan semua harta benda yang ada di
Kademangan ini. Tetapi tentu tidak dengan gadis-gadis kita, seperti yang
baru saja terjadi. Untunglah bahwa persoalan itu telah dapat kita
selesaikan dengan persetujuan itu. Karena itu, kita jangan mencoba
mendahului melanggar pembicaraan yang telah saling kita setujui.”
“Bukan kita yang melakukannya Ki Demang. Juga yang membebaskan Ratri
saat itu bukan salah seorang dari antara kita. Tetapi yang melakukannya
adalah orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar. Itu kali ini juga.”
“Apa yang telah dilakukannya?”
“Berkelahi,” jawab Tambi. Kemudian diceriterakannya apa yang
dilihatnya. Perkelahian yang sudah hampir selesai dan yang ditemuinya tinggallah
sebuah mayat dan orang yang terluka itu.
Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bertanya, “Apakah
kau sempat bertemu dengan orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk
Tampar.”
“Tidak,” Ki Tambi menggeleng, dan sejenak kemudian dengan ragu-ragu
berkata, “Tetapi, bagaimana kalau orang yang menamakan diri Putut Sabuk
Tampar, utusan Resi Panji Sekar itu bersedia bekerja sama dengan kita?”
“Apakah yang akan dilakukannya?” wajah Ki Demang tiba-tiba menjadi tegang.
“Seandainya,” jawab Tambi. “Seandainya, Putut Sabuk Tampar bersedia
bekerja bersama kita dan para pengawal Kademangan ini untuk melawan
Panembahan Sekar Jagat.”
“O, itu terlalu bodoh lagi,” sahut Ki Demang. “Kita berusaha melepaskan
diri dari mulut buaya, tetapi kita akan jatuh ke dalam mulut harimau.
Dan siapakah yang dapat menjamin bahwa Putut Sabuk Tampar itu akan
berlaku jujur.”
Ki Tambi tidak menyahut. Diangguk-anggukkannya kepalanya. Namun
kemudian ia berpaling kepada Temunggul dan bertanya, “Bagaimana pendapatmu?”
Temunggul mengerutkan dahinya. Sejenak ia berpikir dan sejenak kemudian
ia menjawab, “Bagiku sendiri Ki Tambi, mati bukannya sesuatu yang
harus ditakuti. Seandainya kita harus berkelahi mati-matian melawan
Panembahan Sekar Jagat sekalipun aku tidak akan gentar. Tetapi bagaimana nasib
Kademangan ini setelah kita semua mati? Bagaimanakah nasib gadis-gadis kita?”
Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Ia sadar, bahwa
Kademangan ini memang belum masak untuk bangkit melawan Panembahan Sekar Jagat
saat ini. Apabila demikian, memang satu-satunya yang paling baik adalah
diam. Diam lebih dahulu daripada berbuat tanpa pertimbangan yang cukup
masak. Dengan demikian, maka Kademangan ini akan benar-benar menjadi
binasa karenanya.
Karena itu maka Ki Tambi pun kemudian terdiam. Ia duduk saja sambil
merenungi dedaunan yang digoyang-goyangkan angin ke arah manapun tanpa
dapat memberikan pilihan.

Leave a Reply