Tanah Warisan 120

06 Desember 2001, PANJANG yang ada juga di pendapa itu mendengarkan semua pembicaraan dengan dada berdebar-debar. Tiba-tiba saja ia telah menghubungkan orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar itu dengan kepergian Bramanti. “Sikap Bramanti selalu menggangguku. Kenapa tiba-tiba saja ia pergi meninggalkan aku di rumahnya?” pertanyaan itu telah menyentuh hati Panjang. Tetapi ia menyimpannya saja di dalam hatinya. Pada suatu ketika ia
ingin dapat membuktikan hubungan antara orang yang menamakan dirinya
Putut Sabuk Tampar itu dengan Bramanti.
Pendapa itu pun sesaat disambar oleh kesenyapan. Masing-masing
membiarkan angan-angannya membubung setinggi awan yang berarak dilangit yang biru.
Ki Tambilah yang mula-mula sekali bergeser sambil berkata, “Baiklah aku
akan pulang dahulu. Terserahlah orang yang terluka itu. Sebenarnya aku
ingin memanfaatkannya untuk menemukan tempat orang yang menamakan
dirinya Panembahan Sekar Jagat. Tetapi apabila Kademangan ini masih saja
lelap di dalam mimpinya, maka aku kira usaha itu tidak akan banyak
manfaatnya. Maka aku kira, memang lebih baik biarkan keadaan seperti ini
untuk sementara.”
Tidak seorang pun yang menjawab. Sehingga Ki Tambi pun kemudian berdiri
perlahan-lahan sambil berkata pula, “Aku akan pulang. Tetapi aku masih
harus menyelesaikan satu pekerjaan lagi. Mengubur mayat yang aku temui
bersama orang yang luka itu.”
Sejenak Ki Demang termenung. Kemudian katanya, “Baiklah kau membawa
beberapa orang teman Ki Tambi.”
Ki Tambi menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu Ki Demang. Aku akan
pergi sendiri.”
Sebelum Ki Demang menjawab, Ki Tambi talah melangkah meninggalkan
pertemuan itu. Tetapi ia tertegun ketika seseorang berdiri pula dari antara
para pengawal dan berkata, “Aku ikut paman.”
Ki Tambi termenung sejenak. Ditatapnya wajah anak muda itu. Dilihatnya
sorot matanya memancarkan berbagai macam persoalan di dalam dirinya,
sehingga Tambi pun kemudian mengaanggukkan kepalanya, sambil berkata,
“Baiklah Panjang. Tetapi tidak lebih dari kau seorang diri.
Panjang tersenyum. Katanya, “Terima kasih paman.” Lalu kepada Temunggul
ia minta ijin untuk pergi, “Setelah semuanya selesai, aku akan kembali
kemari Temunggul. Sekarang aku minta ijin untuk mengikuti paman Tambi.”
Temunggul tidak segera menyahut. Dan karena ia masih tetap diam, maka
Ki Tambilah yang berkata, “Aku pinjam anak buahmu yang seorang ini Temunggul.”
Temunggul terpaksa menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Silakan paman.”
Panjang pun kemudian mengikuti Ki Tambi melintasi halaman. Tetapi
kemudian Ki Tambi bertanya, “Apakah kau mempunyai seekor kuda?”
“Ada paman. Tetapi di rumah.”
“Marilah kita ambil bersama-sama.”
“Tetapi aku berjalan kaki sampai ke rumah.”
Ki Tambi tidak menjawab. Dituntunnya kudanya sampai ke luar regol
halaman. Kemudian katanya, “Kita naiki berdua sampai ke rumahmu.”

Leave a Reply