Tanah Warisan 121
07 Desember 2001, Panjang ragu-ragu sejenak. Dipandanginya kuda Ki Tambi yang tidak terlampau besar itu. Ki Tambi yang melihat Panjang menjadi ragu-ragu berkata, “Naiklah.
Kudaku adalah kuda yang luar biasa, meskipun bentuknya agak kecil.”
Panjang pun kemudian meloncat naik betapa ia tetap ragu-ragu disusul
oleh Tambi sendiri. Keduanya kemudian berkuda bersama-sama ke rumah
Panjang.
Sejenak kemudian Panjang menyiapkan kudanya. Ketika kuda itu telah
siap, Ki tambi berbisik, “Aku memerlukan seekor kuda lagi Panjang.”
“Untuk apa paman?” bertanya Panjang.
“Aku ingin membawa seseorang bersama dengan kita pergi ke batas Kademangan itu.”
“Siapa?”
Ki Tambi menjadi ragu-ragu sejenak. Namun bukankah Panjang akhirnya
akan mengetahuinya juga? Karena itu, maka akhirnya Ki Tambi pun berkata,
berterus terang, “Bramanti. Aku akan mengajaknya.”
Mendengar jawaban itu dada Panjang berdesir. Dengan serta merta ia
bertanya, “Kenapa Bramanti?”
“Tidak apa-apa. Kebetulan orang yang pertama aku menemui ketika aku
membawa orang yang terluka itu adalah Bramanti. Karena itu maka aku telah
mengajaknya untuk pergi, menguburkan mayat itu.”
Panjang tidak menyahut. Tetapi ia mencoba mencari dan
menghubung-hubungkan semua persoalan yang ditemuinya.
Sejenak kemudian ia menjawab, “Akan aku coba, meminjam kuda tetangga
sebelah paman. Kuda itu pun cukup baik.”
“Cobalah, asal tidak menyusahkannya.”
Panjang pun kemudian pergi ke rumah tetangganya. Sejenak kemudian ia
pun telah kembali sambil menuntun seekor kuda.
“Bagus, kau mendapat seekor kuda yang baik.”
Keduanya kemudian pergi bersama-sama ke rumah Bramanti sambil menuntun
seekor kuda.
“Bagaimana kalau Bramanti tidak dapat naik atau setidak-tidaknya belum
pernah naik seekor kuda?” bertanya Panjang.
Ki Tambi tersenyum, “Marilah kita coba.”
Panjang pun tersenyum pula. Namun sejenak kemudian dahinya pun menjadi
berkerut-kerut. Sebenarnya yang mendorong untuk ikut serta Ki Tambi
adalah keinginannya untuk menanyakan, apakah Ki Tambi sempat bertemu muka
dengan orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar atau
setidak-tidaknya mengenal wajahnya. Tetapi ia masih belum dapat menyatakannya.
“Panjang,” berkata Ki Tambi. “Apakah kau berada di halaman rumah
Bramanti ketika Wanda Geni memasuki Kademangan ini?”
“Ya paman,” dan tiba-tiba saja Panjang mencoba untuk menemukan jalan.
“Darimana paman tahu?”
“Dari Bramanti sendiri.”
“Tetapi dimanakah Bramanti selama itu, apakah paman mengetahuinya?”
“Tidak. Aku hanya mendengar pengakuannya saja, bahwa ia telah pergi ke sungai.”
“Apakah benar Bramanti pergi ke sungai.”
“Aku tidak mengerti.”
Panjang menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan-pertanyaan mengenai
Bramanti dan Putut Sabuk Tampar telah tertimbun di dalam dadanya sehingga
akhirnya terloncat juga pertanyaan itu, “Paman, apakah paman dapat
mengenal Putut Sabuk Tampar?”
Pertanyaan itu telah mengejutkan Tambi, sehingga ia pun bertanya.
“Kenapa?”
“Aku hanya ingin membayangkan, kira-kira bentuk dan tubuh Putut Sabuk
Tampar.”
Tambi terdiam sejenak. Ditatapnya saja wajah Panjang yang menjadi
dalam.
Karena Ki Tambi tidak segera menjawab, maka Panjang pun meneruskannya.
“Pertanyaan itulah agaknya yang telah membawa aku mengikuti paman.”
“Kenapa kau bertanya tentang Putut Sabuk Tampar itu Panjang? Apakah kau mengenalnya”
“Tidak.Tidak paman. Aku hanya sekadar ingin tahu saja.”
Tetapi Ki Tambi menggelengkan kepalanya, “Sayang. Aku tidak dapat mengenalinya.”
“Mengira-irakannya?” desak Panjang.
Posted on December 1st, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 213 Views





Leave a Reply