Tanah Warisan 122
08 Desember 2001, “Juga tidak. Aku sama sekali tidak dapat melihat wajahnya. Jarak kamimasih terlampau jauh saat itu.” Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia sudah tidak bertanya
lagi. Sedang Ki Tambi pun untuk sesaat berdiam diri. Namun berbagai
pertanyaan telah bergelut di dalam dadanya.
“Pertanyaan Panjang sangat menarik perhatian,” gumam Ki Tambi di dalam
hatinya.”Apakah Panjang berusaha untuk menghubungkan seseorang dengan
Putut Sabuk Tampar?” Ki Tambi mengangguk-angguk kecil diluar sadarnya.
“Aku bersedia membawa Panjang karena Bramanti menyebut-nyebut namanya
ketika Wanda Geni berada di Kademangan ini. Tetapi dimanakah Bramanti
saat itu? Agaknya ia telah meninggalkan Panjang dengan diam-diam.”
Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia telah menemukan hubungan
antara Putut Sabuk Tampar dan pertanyaan Panjang. Panjang yang
ditinggalkan oleh Bramanti di halaman rumahnya, agaknya sedang mencoba mencari
hubungan itu.
Sejenak kemudian mereka pun telah sampai di muka regol rumah Bramanti.
Ternyata Bramanti masih duduk di bawah pohon sawo, meskipun kini ia
sudah tidak menganyam keranjang. Tetapi ia duduk bersandar sambil
memandangi awan yang lewat selembar-selembar di atas kepalanya.
Bramanti terkejut ketika ada beberapa ekor kuda berhenti di depan regol
halaman. Segera ia meloncat berdiri dan menyongsongnya.
“Ah,” desisnya. “Kalian membuat aku terkejut dan ketakutan.”
Tetapi Bramanti menjadi heran, melihat Ki Tambi tersenyum aneh
kepadanya, “Kenapa kau tidak bersembunyi lagi Bramanti?” bertanya Ki Tambi.
“Aku menunggumu sampai tulang punggungku hampir patah,” berkata Panjang.
“Maaf. Aku terlampau tergesa-gesa. Aku menyangka bahwa Wanda Geni
tiba-tiba saja datang memasuki halaman rumah ini, sehingga aku segera lari
dan bersembunyi di sungai.”
“Sungai mana?” desak Panjang.
“Ada beberapa jalur sungai di Kademangan kita ini?”
Panjang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menyahut lagi.
Dibiarkannya Ki Tambi menyampaikan maksud kedatangan mereka, “Aku memerlukan
kawan, Bramanti.”
Bramanti memandang Ki Tambi dengan sorot mata keheranan. Terbata-bata
ia bertanya, “Apakah maksud paman?”
“Aku memerlukan kau untuk mengawani aku Bramanti.”
“Tetapi, apa yang akan paman lakukan?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengubur mayat yang ditinggalkan oleh
Putut Sabuk Tampar ditengah jalan. Aku memerlukan kau untuk membantu
menguburkannya.”
Bramanti menarik nafas dalam-dalam. “Oh,” desahnya. “Aku sangka paman
akan melakukan sesuatu yang mengerikan.”
“Nah, berkemaslah.”
“Dimanakah mayat itu sekarang paman?”
“Di ujung Kademangan.”
“Oh, di ujung bulak itu maksud paman.”
“Ya.”
“Aku takut paman, kalau tiba-tiba saja orang-orang Wanda Geni datang
lagi untuk mengambil orangnya yang terbunuh dan bahkan dengan yang
terluka itu sama sekali.”
“Ah, tentu tidak. Panembahan Sekar Jagat tidak akan punya waktu untuk
mengurusinya. Karena itu, biarlah kita saja yang melakukannya.”
“Tetapi kenapa mesti dengan aku? Bukankah masih banyak kawan-kawan
Panjang yang lain, yang lebih berkepentingan daripada aku.”
“Berkemaslah. Jangan terlampau banyak bertanya.”
Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun kemudian melangkah
surut. “Baiklah kalau paman menghendaki. Tetapi apakah paman tidak
singgah lebih dahulu.”
“Terima kasih. Aku ingin segera melakukannya.”
Bramanti pun kemudian melangkah surut sambil berkata, “Maaf paman. Aku
akan berpakaian.”
(Bersambung)-
Posted on December 1st, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 339 Views





Leave a Reply