Tanah Warisan 124

10 Desember 2001, “Anak itu cukup tangkas di punggung kuda,” desis Ki Tambi di dalam hatinya. “Tetapi masih saja ia menemukan jalan untuk mengelak dengan mengaku dirinya sebagai seorang pesuruh.”
Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Sedang laju kuda mereka pun semakin
lama semakin cepat. Debu mengepul di belakang kaki-kaki kuda yang
berderap menyusur jalan di tengah-tengah sawah, menuju keperbatasan
Kademangan Candi Sari.
Dalam pada itu, orang-orang yang masih ada di Kademangan, duduk sambil
merenungi apa yang telah terjadi. Di dalam rumah Ki Demang itu masih
terbaring seorang, pengikut Panembahan Sekar Jagat yang sedang mendapat pengobatan. Ki Jagabaya yang masih ada di Kademangan itu juga, sekali-kali mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi heran, kenapa sampai saat ini,
orang-orang Kademangan Candi Sari masih juga berdiam diri menghadapi segala
macam tindakan dari orang-orang Panembahan Sekar Jagat. Bahkan semakin
lama semakin menjalar desas-desus bahwa orang-orang Panembahan Sekar
Jagat adalah orang-orang yang ajaib. Ceritera terakhir mengatakan bahwa
Panembahan Sekar Jagat adalah seorang yang mampu melenyapkan diri,
mempunyai ilmu siluman sehingga tiba-tiba saja ia dapat lenyap dari
pandangan mata. Dengan demikian ia dapat berada di segala tempat dan disegala
waktu tanpa diketahui oleh orang lain.
Tetapi baik Ki Jagabaya, maupun para pengawal Kademangan itu tidak
dapat mengingkari kenyataan, bahwa empat orang kepercayaan Panembahan Sekar
Jagat, yang langsung dipimpin oleh Wanda Geni sendiri, dapat
dikalahkan oleh hanya seorang yang mengaku dirinya utusan Resi Panji Sekar.
Namun pembicaraan antara Ki Tambi dan Ki Demang ternyata telah
menumbuhkan persoalan di hati anak-anak muda Kademangan Candi Sari. Meskipun
dengan ragu-ragu, namun satu dua di antara mereka sudah mulai
bertanya-tanya satu dengan yang lain. “Apakah kita akan membiarkan keadaan serupa
ini untuk seterusnya?”
Dan setiap kali mereka selalu mendengar Ki Demang berkata kepada
orang-orang Kademangan Candi Sari, bahwa untuk kepentingan Kademangan ini
sendiri mereka sebaiknya tidak berbuat apa-apa terhadap setiap utusan
Panembahan Sekar Jagat.
“Pada suatu saat mereka akan berhenti dengan sendirinya,” berkata Ki
Demang setiap kali.
“Tetapi kapan?” pertanyaan itu menyentuh setiap hati.
“Kita harus menunggu sampai kita siap melakukan sesuatu,” berkata Ki
Demang itu pula setiap kali. “Atau, kalau kita memang tidak mampu, maka
apabila perselisihan antara Pajang dan Mataram telah selesai, maka kita
akan dapat meminta perlindungan lagi dari para prajurit. Dan Panembahan
Sekar Jagat pun pasti akan segera mereka selesaikan.”
Namun setiap kali terngiang pertanyaan di setiap hati, “Tetapi kapan?”
Tetapi kapan?”
“Kita harus mulai,” hati para pengawal itu pun telah tergerak, “Kita
harus mempertahankan apa yang ada sekarang, sebelum semuanya habis terperas.”
Namun para pengawal, beberapa orang laki-laki dan bahkan Ki Jagabaya
sendiri masih saja menyimpan persoalan itu di dalam hati mereka. Hanya Ki
Tambilah yang berani mengatakan berterus terang. Bahkan di hadapan banyak orang.
Setiap kali seorang ingin mengutarakan isi hatinya, maka setiap kali
mereka selalu dibayangi oleh kecemasan, kalau-kalau yang diajaknya
berbicara itu justru salah seorang dari pengikut Panembahan Sekar Jagat yang
secara rahasia memang dibiarkan berada di tengah-tengah lingkungannya.
Temunggul, pemimpin para pengawal Kademangan itu pun sama sekali masih
belum mengatakan sesuatu, meskipun sebenarnya hatinya sendiri bergolak.
Tetapi sampai saat itu ia masih mempunyai perhitungan sendiri. Ia
masih mencemaskan nasib Ratri. Apabila orang-orang Panembahan Sekar Jagat
itu marah, maka nasib Ratri akan menjadi tidak terlampau baik.

Leave a Reply