Tanah Warisan 125
11 Desember 2001, “TETAPI apabila kita biarkan saja mereka berbuat sewenang-wenang, maka Kademangan ini benar-benar akan kering. Dan apakah dapat dijamin bahwa setelah mereka memeras habis kekayaan di Kademangan ini, tidak akan mengganggu gadis-gadis? Apabila mereka sudah tidak memerlukan Kademangan ini lagi, maka apapun dapat mereka lakukan. Memusnahkan Kademangan ini dan merampas gadis-gadis.” Apabila angan-angan Temunggul telah sampai sedemikian jauh, maka tiba-tiba ia menggeretakkan giginya, sambil menggeram di dalam hati. “Kita harus bangkit melawan. Kita harus menyelamatkan seluruh isi kademangan ini, terutama Ratri.”
Temunggul mengangguk-anggukkan kepalanya. Terbayang sekali lagi
perkelahiannya melawan orang-orang Panembahan Sekar Jagat. Desisnya di dalam
hatinya, “Mereka ternyata adalah orang-orang biasa. Mereka dapat juga
dilawan. Sentuhan tanganku dapat juga mengenai tubuhnya. Mereka sama
sekali bukan iblis.”
Tetapi Temunggul pun belum pernah menyatakan perasaannya itu. Ia masih
menyimpannya seperti kawan-kawannya yang lain. Hanya sekali-sekali
terloncat juga satu dua patah kata. Namun di dalam lingkungan yang sangat
terbatas. Meskipun demikian, yang satu dua kata itu agaknya telah
merambat pada setiap hati para pengawal. Seperti percikan api yang terbalut
didalam sekam. Setiap saat, apabila datang suatu kesempatan, maka setiap
dada itu pasti akan meledak. Mereka hanya menunggu. Tetapi mereka
tidak tahu, apakah yang sebenarnya mereka tunggu, karena pimpinan tertinggi
dari Kademangan mereka sama sekali tidak memberikan arah apapun juga
untuk mengatasi persoalan itu.
Meskipun demikian ketika para pengawal, terutama anak-anak mudanya,
meninggalkan Kademangan, mereka telah membawa persoalan di dalam hati
mereka. Persoalan Kademangan mereka yang semakin lama menjadi semakin
miskin. Hari depan Kademangan mereka yang suram dan hari depan mereka
sendiri.
Sejak peristiwa di ujung batas Kademangan Candi Sari dan sejak salah
seorang dari pengikut Panembahan Sekar Jagat berada di Kademangan, Candi
Sari seakan-akan disaput oleh nafas yang lain dari kebiasaannya. Para
pengawal tampak menjadi semakin tegang, meskipun di dalam hati.
Diam-diam mereka selalu mengasah senjata-senjata mereka dan menyimpannya
baik-baik. Mereka merasa suatu ketika senjata-senjata itu akan mereka
pergunakan. Apabila mereka keluar rumah, kesawah, dan apalagi mereka yang
sedang meronda, maka senjata-senjata itu tidak pernah terlepas dari lambung
mereka.
Agaknya Ki Tambi tidak henti-hentinya, berbisik kepada setiap telinga,
bahwa waktunya sudah hampir tiba untuk bangkit dan melawan kekuatan
Panembahan Sekar Jagat.
“Mereka adalah manusia-manusia biasa,” Ki Tambi selalu membesarkan hati
anak-anak muda itu.
“Tetapi bagaimana dengan Panembahan Sekar Jagat sendiri?”
Posted on December 1st, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 389 Views





Leave a Reply