Tanah Warisan 126

12 Desember 2001, “Ia pun manusia biasa. Bukankah orang-orangnya                            samasekali tidak mampu melawan Putut Sabuk Tampar? Seandainya Panembahan Sekar Jagat sendiri akan turun ke Kademangan ini, itu akan berarti, Resi Panji Sekar punakan muncul pula.” “Siapa mereka?”

“Mereka pun orang-orang biasa. Kalau kita tidak dapat melawan seorang
lawan seorang, maka kita akan melawan bersama-sama.”
Anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepala mereka, “Ya, kami
menunggu saat yang demikian.”
Sementara itu Bramanti sama sekali tidak pernah keluar dari halaman
rumahnya. Sehari-hari kerjanya hanya duduk di bawah pohon sawo menganyam
keranjang, wuwu dan kadang-kadang macam-macam barang yang lain. Adalah
kesenangannya sejak kecil, bermain-main dengan rautan bambu. Sejak umur
delapan tahun, ia sudah dapat membuat kipas api dan serok dapur.
Tetapi kadang-kadang Panjanglah yang tiba-tiba saja telah berada di
regol halaman. Setiap kali ia selalu singgah ke rumah itu. Kadang-kadang
pada saat ia berangkat ke Kademangan, kadang-kadang setelah ia pulang.
Bahkan kadang-kadang Panjang sengaja datang ke rumahnya meskipun ia
tidak pergi ke Kademangan.
Kecuali Panjang, Ki Tambilah yang sering singgah ke rumah itu pula. Ki
Tambi senang sekali melihat hasil anyaman tangan Bramanti. Sehingga
kadang-kadang ia membawa sepotong dua potong barang anyaman dari Bramanti.

“Kau dapat membuatnya lagi. Ceting ini aku bawa pulang.”
Bramanti hanya tersenyum saja.
“Tetapi, akhir-akhir ini aku lihat kau tidak pernah keluar, Bramanti?”
bertanya Ki Tambi kemudian.
“Aku tidak mempunyai kepentingan apapun di luar rumah ini paman.”
“Apakah kau sekali-kali tidak ingin pergi ke Kademangan, berkumpul
dengan anak-anak muda yang lain?”
“Itu hanya akan menimbulkan persoalan saja paman. Aku tidak begitu disukai.”
Ki Tambi mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Aneh Bramanti. Orang
yang terluka itu, yang kini masih berada di Kademangan, pernah berkata
bahwa ia melihat Putut Sabuk Tampar di Kademangan ini.”
Dahi Bramanti tiba-tiba berkerut, “Betulkah begitu?”
“Ya. Kau ingat orang yang aku bawa lewat halaman rumahmu ini beberapa
hari yang lalu?”
“Ya paman”
“Ia menunjuk kau ketika kemudian ia jatuh pingsan.”
“Ah.”
Ki Tambi tertawa. “Mungkin ia salah lihat. Tetapi begitulah katanya. Ia
melihat Putut Sabuk Tampar di Kademangan ini. Apakah kau tidak
percaya?”
“Bukan tidak percaya paman. Tetapi aku sama sekali tidak tahu menahu.
Selama ini aku selalu di rumah saja.”
“Karena itu, marilah kita pergi ke Kademangan. Nanti kau akan mendengar
sendiri, bahwa ia pernah melihatnya.”
Bramanti mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Kepada
siapa saja orang itu berceritera tentang orang yang menyebut dirinya
Putut Sabuk Tampar?”
“Kepada semua orang. Kepada Ki Demang, kepada Ki Jagabaya dan kepada
para pengawal.”
“Bagaimanakah tanggapan mereka?”
“Pada umumnya mereka berpendapat bahwa orang itu telah salah lihat.”
“Tentu, tentu ia salah lihat,” Bramanti berhenti sejenak, lalu.
“Bagaimana tanggapan Panjang?”
Ki Tambi tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah Bramanti. Dan ia
melihat sesuatu bergetar pada sorot matanya.
“Bertanyalah kepada Panjang,” jawab Ki Tambi.
Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ia akan singgah kemari.
Hampir setiap kali ia lewat ia singgah kerumah ini.”
“Bagaimana dengan hari ini?”
Bramanti menggeleng. “Aku tidak tahu. Aku belum melihat ia berangkat ke
Kademangan.”
“Ia sudah pergi. Aku bertemu dengan anak itu.”
“O, kalau begitu, nanti dari Kademangan biasanya ia singgah.”

Leave a Reply