Tanah Warisan 127

13 December 2001,  “Aku akan menunggunya disini.” Bramanti terkejut. Dengan serta merta ia bertanya, “Kenapa paman akan
menunggunya disini?”
Sekali lagi Ki Tambi memandang pusat mata Bramanti. Dan sekali lagi ia
melihat getar itu lagi. Maka jawabnya kemudian, “Apakah salahnya?”

Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Dan ia tidak dapat menjawab
pertanyaan itu.
“Aku akan mendapatkan ibumu. Sudah agak lama aku tidak menemuinya.
Setiap kali aku hanya memerlukanmu.”
Bramanti mengangguk kaku. Ia tahu bahwa itu adalah sekadar alasan Ki
Tambi untuk tetap tinggal di rumahnya. Namun ia pun menjawab. “Silakan
paman.”
Ki Tambi pun kemudian naik ke rumah Bramanti. Ditemuinya perempuan tua,
ibu Bramanti sedang duduk-duduk di dapur sambil menunggu api.
Perempuan itu sedang memanasi santan kelapa untuk dibuatnya menjadi minyak.
“Ha,” desis Ki Tambi. “Aku akan menunggu sampai santan itu menjadi
minyak Nyai. Aku senang sekali apabila aku dijamu dengan blondo minyak itu.”
Nyai Pruwita tersenyum. Hanya sebentar. Katanya, “Silakan Ki Tambi.
Tetapi sebaiknya Ki Tambi duduk saja di dalam, tidak di dapur yang kotor.”

“O, tidak mengapa Nyai. Aku lebih senang duduk di sini. Aku menunggu
minyak itu.”
Nyai Pruwita mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Terserahlah.
Tetapi pakaianmu akan menjadi kotor oleh abu dan asap.”
Ki Tambi tertawa. Tetapi ia tidak beranjak pergi.
Sementara itu Bramanti telah kembali duduk di bawah pohon sawo.
Tangannya masih juga menggenggam rautan bambu. Tetapi matanya tidak menatap
kepekerjaannya. Di pandanginya bayang-bayang dedaunan yang disiram oleh
sinar matahari di atas tanah yang kering. Bergerak-gerak oleh angin yang lemah.
Tiba-tiba Bramanti itu terkejut ketika kemudian langkah tergesa-gesa
memasuki regol halamannya. Kemudian dilihatnya Panjang datang kepadanya
dengan nafas terengah-engah.
“Kenapa kau Panjang?”
Panjang duduk disamping Bramanti. Dicobanya untuk mengatur nafasnya
sambil mengibas-ibaskan lengan bajunya.
“Kenapa kau Panjang? Apakah kau dikejar hantu?”
Panjang menggeleng. “Aku di kejar anjing”
“Ah.”
Panjang bergeser setapak, lalu seakan-akan berbisik ia berkata, “Orang
itu telah dilepaskan lagi.”
“Siapa maksudmu?”
“Pengikut Panembahan Sekar Jagat.”
Bramanti mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia bertanya Ki Tambi
telah muncul dari balik pintu. “Ha, kau Panjang.”
“Ya paman.”
“Apakah ada berita baru mengenai Ki Demang, atau Ki Jagabaya atau
mengenai kau sendiri?” bertanya Ki Tambi sambil mendekat.
Panjang tidak segera menyahut. Namun Bramantilah yang menjawab, “Ada
paman. Tentang orang yang sedang sakit itu.”
“Kenapa dengan orang itu?”
Bramanti berpaling ke arah Panjang. Desisnya, “Benarkah begitu? Orang
itu dilepaskan?”
“Dilepaskan?” Ki Tambi mengulang.
Panjang mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya paman. Orang itu telah
dilepaskan.”
Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Desisnya, “Aku sudah
menyangka. Tetapi apakah alasan Ki Demang kali ini?”
“Sama seperti lagunya yang lama. Untuk kepentingan Kademangan ini.”
“Dan apa kata Ki Jagabaya dan bebahu Kademangan yang lain?”
“Sama saja seperti yang pernah terjadi. Mereka diam saja sambil
memberengut.”
Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. “Apa katamu Bramanti?”
Bramanti termenung sejenak. Dan hati-hati ia menyahut, “Apakah orang
itu sama sekali sudah tidak berguna paman?”

Leave a Reply