Tanah Warisan 128

14 Desember 2001,  “Sebenarnya orang itu diperlukan disini.                                    Mungkin dapat kita jadikan tanggungan, meskipun kemungkinan itu kecil sekali. Karena bagi orang-orang seperti Panembahan Sekar Jagat, mereka yang sudah tidak berguna, pasti akan dibiarkannya saja. Bahkan mati sekalipun. Tetapi kepentingan kita
yang lain, kita akan dapat gambaran tentang kekuatan Panembahan Sekar
Jagat daripadanya.”

“Orang itu tentu tidak akan mengatakannya.”
“Kita dapat memaksanya.”
“Itulah yang Ki Demang sama sekali tidak berani melakukannya.”
Ki Tambi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian desahnya, “Aku tahu akibat
dari tindakan Ki Demang itu. Akulah orang yang pertama-tama akan
menjadi sasaran. Aku pasti dianggapnya orang yang akan dapat mengganggu
kekuasaannya di Kademangan ini.”
“Kenapa paman Tmabi yang dituduhnya?”
“Aku sendiri pernah mengatakan kepada orang itu, bahwa kita tidak akan
tetap tinggal diam untuk selama-lamanya. Aku mengatakannya juga di
Kademangan, di depan orang itu, bahwa kita memang harus bangkit.”
Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia mendengar Ki Tambi
berkata pula, “Tetapi itu adalah akibat yang wajar. Aku memang sudah
memperhitungkannya. Dan aku harus berani menghadapi mereka, apalagi seorang
diri. Tetapi apa boleh buat.”
“Tetapi paman tidak seorang diri.”
“Siapa yang dalam keadaan ini bersedia memihakku?”
Panjang terdiam sejenak. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya. Namun ia
hanya dapat menelannya kembali. Meskipun demikian Ki Tambi dapat
menangkap sorot mata itu, sehingga ia berkata, “Mungkin ada juga orang lain
yang tidak rela melihat hal serupa itu terjadi. Tetapi apa artinya
apabila mereka tetap tinggal diam.”
Panjang menggigit bibirnya. Dan dengan sendat ia akhirnya berkata, “Aku
akan berusaha paman, agar paman tidak harus menghadapi mereka seorang
diri.”
“Siapakah yang akan kau seret ke dalam kesulitan itu?”
“Bukan maksudku, tetapi adalah menjadi kuwajiban kita bersama. Aku
sendiri sudah tentu menyediakan diri. Mungkin Temunggul juga dapat dibawa
serta karena ia takut kehilangan Ratri. Mungkin juga Ki Jagabaya
seandainya ia dapat sedikit melepaskan diri dari pengaruh Ki Demang. Dan
mungkin masih banyak lagi. Bagaimanapun juga aku akan tetap berusaha.”
“Terima kasih Panjang,” Ki Tambi berhenti sejenak, lalu dipandanginya
wajah Bramanti dalam-dalam. “Dan kau Bramanti?”
Pertanyaan itu sama sekali tidak diduganya. Karena itu, maka ia pun
tidak segera dapat menjawab.
“Aku wajib memperingatkan kau Bramanti,” berkata Ki Tambi itu kemudian.
“Orang yang dilepaskan itu menganggap bahwa orang yang bernama Putut
Sabuk Tampar itu berada di Kademangan ini. Nah, apakah kau tahu
artinya?”
Bramanti menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya paman. Orang itu pasti
akan datang kembali mencari orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk
Tampar di Kademangan ini.”
“Nah, kau sadari bahaya itu?” Ki Tambi berhenti sejenak, lalu, “Tetapi
yang lebih berbahaya lagi bagimu Bramanti, orang itu sebelum pingsan
seolah-olah ingin mengatakan, bahwa kaulah agaknya orang yang telah
melukainya dan menamakan diri Putut Sabuk Tampar.”
“Kenapa aku? wajah Bramanti menjadi tegang.
“Aku tidak tahu. Bertanyalah kepadanya kelak, apabila ia datang ke
rumah ini. Dan ia pasti akan datang bersama orang-orang lain yang lebih
kuat.”
Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Namun ia masih berkata, “Aku akan
mengungsi paman. Kalau aku mendengar derap kuda-kuda itu, aku akan lari
ke sungai.”
“Tetapi bukankah kau pernah berkata, bahwa kau sanggup berbuat apa saja
sesuai dengan kemampuanmu, apabila kau tidak berbuat sendiri? Nah,
sekarang kau telah mempunyai beberapa orang kawan. Apa katamu?”

Leave a Reply