Tanah Warisan 129
Mon. December 3, 2007Categories: Tanah warisan
15 Desember 2001, Bramanti merasa semakin tersudut.Namun ia masih menjawab, “Paman, jangan perhitungkan aku. Betapa aku ingin membantu, tetapi tenagaku sama sekali tidak akan berarti apa-apa bagi paman dan bagi orang-orang yang lain. Aku harap bahwa Temunggul akan bangun dari tidurnya. Meskipun seandainya ia khusus berbuat untuk Ratri.”
“Mudah-mudahan,” terdengar Panjang berdesis.
“Baiklah,” gumam Ki Tambi kemudian, “Aku harus bersiap sejak sekarang.
Aku berterima kasih kepadamu Panjang, apabila kau tidak membiarkan aku
berdiri seorang diri.”
“Aku akan berusaha untuk menemukan orang-orang lain. Aku pun mengharap
pada saatnya orang yang menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar itu pun
tidak akan berdiam diri. Aku masih mengharap orang lain lagi untuk ikut
serta membebaskan Kademangan ini,” berkata Panjang.
“Siapakah orang itu?” bertanya Ki Tambi.
“Ia sudah menyangkutkan diri pada saat aku melakukan pendadaran. Orang
yang membebaskan aku dari kuku-kuku dan taring harimau itu. Namun aku
masih tetap menyangka, bahwa orang itu sama orangnya dengan Putut Sabuk
Tampar.”
Panjang mencoba mencari kesan pada wajah Bramanti. Tetapi wajah itu
seakan-akan tidak memberikan tanggapan apapun.
“Mudah-mudahan,” desis Ki Tambi. “Aku akan mempersiapkan diri sejak
sekarang. Mungkin orang itu akan segera kembali. Mungkin malam nanti dan
mungkin besok. Aku akan memasang kentongan di rumahku. Aku akan
memukulnya apabila orang-orang itu datang ke rumahku. Nah, apakah kau
sependapat dengan isyarat ini Panjang?”
“Ya. Aku akan memberitahukan kepada kawan-kawan yang bersedia ikut
membantu paman. Kami pun akan memasang kentongan itu pula, supaya berita
itu segera tersebar di seluruh Kademangan. Orang-orang yang sanggup
berbuat sesuatu untuk Kademangannya akan bangkit setiap saat. Disetujui atau
tidak disetuju oleh Ki Demang.”
Ki Tambi mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian desisnya, “Ah, aku
sudah terlampau lama berada di rumahmu Bramanti. Aku akan minta diri
kepada ibumu.”
Sebelum Bramanti menjawab, Ki Tambi itu berjalan tergesa-gesa untuk
minta diri kepada ibu Bramanti, dan seterusnya bersama Panjang
meninggalkan halaman rumah itu.
Tinggallah kemudian Bramanti berdiri termangu-mangu. Sejenak ia
merenungkan kata-kata Ki Tambi tentang orang yang baru saja dilepaskan oleh Ki
demang itu.
Tanpa sesadarnya Bramanti mengayunkan kakinya. Namun ia tidak kembali
ke bawah pohon sawo, tetapi ia langsung pergi ke kandangnya yang masih
saja kosong. Kandang yang sudah diperbaiki dan diberinya berdinding.
Perlahan-lahan ia membaringkan dirinya. Pikirannya melambung jauh ke dunia
angan-angannya.
Tiba-tiba Bramanti itu bangkit. Ditutupnya pintu kandangnya dan
dipalangnya dari dalam. Kemudian dengan tergesa-gesa pergi ke sudut kandang
itu dengan sebuah cangkul di tangan.
Dengan tergesa-gesa pula ia menggali sebuah lubang di sudut kandang
itu. Semakin lama semakin dalam. Sehingga akhirnya terasa cangkulnya
menyentuh sesuatu.
Cangkul itu pun kemudian diletakkannya. Dengan tangannya ia menggali
beberapa jari lagi. Kemudian dengan dada yang berdebar-debar diungkitnya
sesuatu. Pedang pendek, di dalam lapisan beberapa helai kulit.
Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Pedang pendek dengan sebuah tangkai
ukiran seperti keris. Tetapi kepala seekor ular naga.
Dibelainya pedang pendek itu seperti membelai lengan seorang sahabat
yang telah lama tidak bertemu.
Meskipun kulit pembalut pedang pendek itu sebagian telah rusak, namun
pedang pendek beserta wrangkanya, masih tetap bersih. Sehingga pedang
itu seolah-olah seperti pada saat Bramanti menanamnya kira-kira sepuluh
tahun yang lampau. (Bersambung)-m
Comments