Tanah WArisan 140
29 Dec 2001, Ratri mengerutkan keningnya. Sekilas dipandanginya
Temunggul yang menundukkan kepalanya.
Posted on December 4th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
29 Dec 2001, Ratri mengerutkan keningnya. Sekilas dipandanginya
Temunggul yang menundukkan kepalanya.
Posted on December 4th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
28 Dec 2001, Ratri yang merasa selalu dikejar oleh pertanyaan yang tidak dapat
segera dijawabnya berlari semakin kencang,
Posted on December 4th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
27 Dec 2001, Temunggul yang ditinggalkan oleh Bramanti menjadi berdebar-debar.
Posted on December 4th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
Rabu, 26 Des 2001, “Bohong,” bentak Temunggul.
Posted on December 4th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
24 Desember 2001, Bramanti masih berdiri sama seperti patung.
Namun kecemasan yang sangat telah menjalari jantungnya.
Posted on December 4th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
23 Desember 2001, Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar,bahwa
Ratri sama sekalitidak menyadari keadaannya.
Posted on December 4th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
22 Desember 2001, Tiba-tiba sesuatu menyentak di dada Bramanti. Dan tanpa sesadarnya ia memotong, “Tetapi kini ia adalah seorang penjahat.”
Posted on December 4th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
21 Desember 2001, Tetapi Bramanti terpaksa melakukan permintaan Ratri itu.
Posted on December 4th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
20 Desember 2001, Bramanti menarik nafas.
Posted on December 4th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »
19 Desember 2001, BRAMANTI itu tersadar dari dunia angan-angannya ketika ia mendengar ibunya memanggilnya.
Posted on December 4th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan | No Comments »