Tanah Warisan 130
Tue. December 4, 2007Categories: Tanah warisan
18 Desember 2001, Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Sekilas kenangannya terbang di dalam kepalanya. Pada saat ia bertekad meninggalkan kampung halamannya. Diam-diam ia menanam pedang pendek pusaka ayahnya tanpa seorang pun yang mengetahuinya. Dan ternyata pedang itu kini telah di dalam genggamannya kembali “Tetapi aku tidak akan dapat membawanya setiap saat,” Bramanti berdesis.
Sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Di edarkannya pandangan matanya ke
sekeliling kandangnya. Sambil mengerutkan keningnya ia mencari tempat
yang paling baik untuk menyimpan pusaka itu.
Sejenak kemudian Bramanti melangkah ke sudut. Hati-hati ia memanjat
tiang, dan kemudian diletakkannya pedang pendek itu di atas blandar.
“Tempat itu tidak akan mudah diketahui orang,” desisnya.
Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Bramanti melangkah menjauh sambil
mencoba menatap blandar itu. Tetapi pedang itu sama sekali tidak
tampak.
Bramanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika kakinya menyentuh tanah
yang teronggok di samping lubang yang digalinya, maka dengan
tergesa-gesa ditimbunnya lubang itu kemudian ditaburkannya beberapa jemput
jerami kering di atasnya, untuk menghilangkan jejak yang mungkin akan
menumbuhkan berbagai pertanyaan kepada mereka yang kebetulan melihatnya.
Apakah, ibunya, apakah Panjang atau orang lain lagi.
“Aku mungkin akan memerlukan pedang itu,” katanya di dalam hati.
“Apabila benar kata paman Tambi bahwa orang-orang itu akan datang ke rumah
ini.”
Bramanti kemudian meletakkan dirinya duduk di atas onggokan jerami
kering di sudut kandangnya. Setiap kali selalu terngiang kata-kata Ki Tambi
tentang kemungkinan itu. Dan itulah agaknya yang telah mendorongnya
untuk menggali senjatanya yang telah sekian lamanya tertanam.
“Ada dua kemungkinan,” berkata Bramanti di dalam hatinya. “Mungkin
orang-orang Panembahan Sekar Jagat akan datang untuk mencari orang yang
menyebut dirinya Putut Sabuk Tampar seperti yang dikatakan oleh paman
Tambi. Dan kemungkinan lain, Panembahan Sekar Jagat akan mencari Panggiring
di rumah ini, apabila pada suatu ketika Panembahan Sekar Jagat
mengetahui, bahwa Panggiring adalah anak Candi Sari dan berasal dari halaman
ini. Agaknya nama Panggiring akan semakin meluas dan menumbuhkan
persoalan di antara mereka.”
Tanpa sesadarnya ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian
dihentakkannya tangannya sambil menggeram, “Aku akan menghadapi segala
kemungkinan. Panembahan Sekar Jagat yang akan mencari Putut Sabuk Tampar atau
mencari Panggiring. Atau kemungkinan yang lain, apabila Panggiring sendiri
datang untuk menguasai Kademangan ini pula dengan cara yang kasar.
Apalagi ternyata bahwa ayahnya adalah seorang Demang pula semasa hidupnya.
Maka akan datang suatu saat itu datang untuk menuntut haknya dan
sekaligus memeras Kademangan ini melampai Panembahan Sekar Jagat sendiri.”
(Bersambung)-k
Comments