Tanah Warisan 141
30 Dec 2001, Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa terbelenggu
oleh pesan gurunya dan pendirian ibunya. Ibunya lebih senang melihat Bramanti sebagai seorang yang jinak
dan selalu berada di halaman rumahnya. Setiap kali
ia menjadi ngeri, apabila teringat olehnya akan kematian suaminya,
ayah Bramanti. Justru karena ayah Bramanti memiliki ilmu kanuragan,
sehingga ia tidak pernah menghindari pertengkaran.
Sebagai seorang anak yang patuh kepada gurunya dan kepada orang tuanya,
maka Bramanti masih mencoba menahan hati. Supaya ia tidak kehilangan
pengamatan diri, maka ia lebih baik selalu berada di rumahnya. Di bawah
pohon sawo, menganyam wuwu atau berbaring di kandang apabila ia tidak
mempunyai pekerjaan yang lain.
Namun akhirnya ia menjadi jemu juga untuk selalu berada di dalam
lingkungan halaman. Kawannya yang sering datang mengunjunginya adalah Panjang
dan kadang-kadang Ki Tambi. Namun apabila keduanya kemudian pergi,
maka Bramanti kembali merasa tercencang oleh kesepian.
Satu-satunya kawannya adalah pedang pendek yang disembunyikannya di
dalam kandang. Namun pedang itu kemudian harus disimpannya kembali apabila
ia berada di kebun atau di halaman. Yang selalu ada di tangannya
adalah sebilah parang pemotong kayu, atau cangkul atau bahkan sapu lidi.
Namun sampai juga saatnya, Bramanti tidak dapat bertahan lagi. Ia tidak
dapat mencegah lagi keinginannya untuk keluar barang sekejap dari
halaman rumahnya. Karena itu, maka ia minta ijin kepada ibunya untuk pergi
ke sungai, mencuci pakaiannya yang kotor.
“Kenapa tidak kau cuci di rumah saja Bramanti? Bukankah sumur kita
tidak kering?”
“Aku ingin melihat-lihat ibu. Sudah agak lama aku tidak keluar rumah.
Aku ingin mandi sambil berjemur seperti ketika aku masih kanak-kanak.”
“Tetapi jangan terlampau lama Bramanti. Dan sebaiknya kau tidak usah
pergi ke bendungan. Di sana selalu banyak orang yang akan dapat membuat
persoalan.”
“Aku tidak pernah pergi ke bendungan. Lebih baik aku mencuci dan mandi
disebelah pedesaan ini.”
“Baik. Dan hati-hatilah. Jangan membuat persoalan apapun dengan
siapapun. Kau masih belum dapat diterima dengan baik oleh orang Kademangan ini.”
“Ya bu.”
Namun peringatan ibu nya itu memang membuat Bramanti menjadi ragu-ragu.
Apakah tidak lebih baik ia tinggal di rumah, berbaring di kandang atau
menganyam keranjang?”
“Sebentar saja,” desisnya.
Bramanti pun kemudian meninggalkan halaman rumahnya membawa sehelai
kain panjang selain yang dipakainya untuk dicuci. Perlahan-lahan ia
melangkah, menyusur jalan sempit yang akan sampai ke sudut desa. Kemudian
dilangkahinya parit kecil yang membujur sepanjang jalan. Lalu langkahnya
terayun di atas pematang yang akan sampai ke tanggul sungai.
Sekali-kali Bramanti menarik nafas. Sinar matahari pagi yang menjamah
punggungnya yang telanjang terasa semakin hangat. Burung bangau yang
berdiri dengan sebelah kakinya di sepanjang pematang, menghambur
berterbangan. Namun kemudian satu persatu mereka hinggap lagi di atas pematang
menunggu mangsanya yang meloncat dari rerumputan.
Bramanti menebarkan pandangan matanya, menyapu batang-batang padi yang
sedang menghijau. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam sambil berdesah.
“Hasil panen ini, setiap kali selalu diambil oleh orang-orang
Panembahan Sekar Jagat. Apabila beberapa orang petani berhasil menabung dan
membeli barang-barang berharga, maka mereka akan menjadi sasaran yang
menyenangkan.”
Bramanti menggeleng-gelengkan kepalanya, “Apakah hal ini akan
berlangsung terus, dan anak-anak muda di Kademangan ini masih tetap tidur? Aku
harap Ki Tambi akan berhasil.”
Bramanti tertegun ketika ia mendengar derap seekor kuda. Ketika ia
berpaling dilihatnya Panjang berada di atas punggung kudanya berlari
menyusur jalan yang baru saja ditinggalkannya, melintas parit.
Posted on December 4th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 209 Views





Leave a Reply