Tanah Warisan 142
31 Dec 2001, Bramanti melihat Panjang melambaikan tangannya, dan Bramanti punmengangkat tangannya pula. Sejenak ia menjadi ragu-ragu. Apakah ada sesuatuyang penting telah terjadi?
Panjang tidak terlampau biasa naik kuda di Kademangan sendiri.
Karena itu, maka tiba-tiba ia ingin bertemu dengan anak muda itu.
Tetapi Panjang tidak berhenti. Ia berjalan terus meskipun ia
masih juga melambai-lambaikan tangannya.
Ketika Panjang menjadi semakin jauh, Bramanti pun meneruskan
langkahnya, menyusur pematang pergi kesungai untuk mencuci pakaiannya.
Ketika ia menuruni tebing yang tidak terlampau tinggi, kemudian
menginjakkan langkahnya, menyusur pematang pergi ke sungai untuk mencuci
pakaiannya.
Ketika ia menuruni tebing yang tidak terlampau tinggi, kemudian
menginjakkan kakinya di atas pasir yang hangat, terasa seolah-olah ia menjadi
kanak-kanak kembali. Di gusur-gusurnya onggokan pasir tepian dengan
kakinya, kemudian dengan sebuah terikan nafas yang dalam ia menjatuhkan
dirinya duduk menjelujur di atas pasir itu.
Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia berdiri dan
berjalan ke air yang jernih yang mengalir di antara batu-batuan yang
berserakan.
Bramanti pun kemudian membuka kainnya, sehingga ia tinggal memakai
celana dalamnya yang panjang sampai ke lutut. Kemudian kain yang baru saja
dipakainya itu pun dicelupkannya ke dalam air, dan kemudian dicucinya
dengan lerak. Sedang kainnya yang lain diletakkannya di atas pasir yang
kering.
Sejenak Bramanti berendam di dalam air beserta sisa pakaiannya. Sambil
mencuci kain panjangnya ia mandi. Alangkah segarnya. Seolah-olah semua
perasaan lelah dan letih hilang hanyut bersama arus sungai yang bening
itu.
Namun tiba-tiba saja Bramanti itu terperanjat. Ketika ia menengadahkan
wajahnya, dilihatnya dua orang berdiri di atas tanggul sambil bertolak
pinggang. Salah seorang dari mereka adalah Temunggul.
Sejenak Bramanti menahan nafasnya. Ia tidak menyangka bahwa Temunggul
akan mendapatkannya.
Sekilas terbayang apa yang telah terjadi ditepi sungai ini untuk
beberapa hari yang lampau. Ketika tiba-tiba saja ia bertemu dengan Ratri, dan
kemudian dengan Temunggul.
Selain Temunggul dan Ratri, ia adalah orang yang ketiga yang mengerti
apa yang sebenarnya telah terjadi. Ketika ia mendengar orang-orang
mempercakapkan Ratri dan Temunggul yang seakan-akan sedang bergurau dan
bekerjaan di atas tanggul sungai sehingga Ratri tergelincir, ia dapat
menebak dengan tepat, apakah yang sebenarnya telah terjadi.
Dan kini tiba-tiba Temunggul itu telah berada di atas tanggul pula.
Tetapi Bramanti kemudian, pura-pura tidak memperhatikannya. Seakan-akan
ia tidak mempunyai persoalan sama sekali dengan Temunggul dan kawannya
yang seorang itu. Dengan demikian, maka Bramanti pun melanjutkan
kerjanya membersihkan dirinya sambil mencuci kain panjangnya.
Temunggul melihat sikap Bramanti dengan wajah yang tegang. Dan
tiba-tiba sja ia berkata lantang, “Apa kerjamu disini Bramanti?”
Bramanti berpaling. Jawabnya kemudian, “Aku sedang mandi dan mencuci
pakaian seperti apa yang sedang kau lihat Temunggul.”
Temunggul memandangnya dengan penuh kebencian. Kemudian bibirnya
bergerak membuat sebuah senyuman yang kecut.
“Aku tahu apa yang sebenarnya kau lakukan,” desisnya.
Bramanti mengerutkan keningnya. Seperti di luar sadarnya ia bertanya,
“Apakah yang aku lakukan selain mencuci pakaian?”
“Jangan berpura-pura,” sahut Temunggul.
“Aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan.”
Sekali lagi Temunggul tersenyum. Senyum yang kecut. “Jadi begitulah
yang sering kau lakukan?”
Dalam kebingungan Bramanti mengangguk, “Ya. Beginilah.”
“Setiap kali tanpa aku ketahui?”
“Apakah untuk melakukannya aku harus memberitahukannya kepadamu?”
Posted on December 4th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 224 Views





Leave a Reply