Tanah Warisan 143
02 Jan 2002, “Diam,” tiba-tiba Temunggul membentak.“Kau berpura-pura tidak mengerti maksudku. Tetapi jangan mencoba ingkar.
Kau akan terjerat oleh janjimu sendiri. Jangan menyesal.”
Bramanti menjadi bingung. “Apalagi salahku sekarang?” pertanyaan itu
telah melonjak di dalam dadanya. “Seakan-akan hampir setiap langkahku
dianggap bersalah.” Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Ia benar-benar
tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Temunggul itu.
Karena Bramanti tidak segera menjawab, maka Temunggul mendesaknya, “He,
kenapa kau diam saja. Ayo katakan, bahwa kau telah melanggar janjimu.
Dan pelanggaran itu akan berakibat jauh bagimu.”
Bramanti yang benar-benar tidak mengerti maksud Temunggul masih
bertanya-tanya di dalam hati, dan bahkan akhirnya dilontarkannya pertanyaan
itu, “Apakah salahku Temunggul? Apa salahku?”
“Kau masih berpura-pura saja Bramanti. Jangan menunggu aku kehilangan
kesabaran,” Temunggul menggeram. “Cepat naik kemari.”
“Aku belum selesai.”
“Cepat naik kemari,” Temunggul membentak semakin keras.
“Maaf. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku ini dahulu. Aku masih harus
menjemur cucianku dan celanaku.”
“Jangan membantah lagi. Naik.”
Terasa dada Bramanti bergetar. Sudah terlampau lama ia mengorbankan
harga dirinya. Sebagai seorang laki-laki, ia tidak akan dapat menerima
perintah itu begitu saja. Tetapi setiap kali ia selalu dibayangi oleh
wajah ibunya dan pesan-pesan gurunya.
Sejenak Bramanti dicengkam oleh kebingungan. Namun akhirnya ia menarik
nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia berdiri dan dengan pakaian yang
basah ia berjalan perlahan-lahan di atas pasir tepian.
“Ayo cepat, naik.”
Bramanti tidak membantah lagi. Meskipun ia tidak dapat melenyapkan
singgungan-singgungan di dalam dadanya, tetapi ia melakukan perintah itu.
Dengan hati-hati ia naik. Dirambatinya tebing yang curam, meskipun
tidak begitu tinggi. Kemudian dengan tubuh dan pakaiannya yang basah ia
berdiri dihadapan Temunggul yang masih bertolak pinggang.
“Bramanti,” geram Temunggul. “Apakah kau masih ingin berpura-pura
terus.”
“Aku tidak berpura-pura Temunggul. Tetapi aku benar-benar tidak
mengerti, apakah yang sebenarnya kau maksudkan.”
Temunggul menjadi semakin marah. Sekali lagi ia membentak, “Jangan
bermain gila terhadapku Bramanti. Aku dapat berlaku sopan, tetapi aku juga
dapat berlaku kasar.”
Bramanti menarik nafas dalam-dalam. Dahinya berkerut ketika ia melihat
dua orang lagi kawan Temunggul berjalan mendekatinya.
“Apakah anak itu bertingkah?” bertanya salah seorang daripadanya.
“Ia masih berpura-pura,” jawab Temunggul. “Ia sama sekali tidak merasa
bersalah,” kemudian kepada Bramanti ia bertanya, “Betulkah begitu? Kau
tidak merasa bersalah?”
“Bukan aku tidak merasa bersalah, Temunggul. Tetapi aku belum
mengetahui, apakah kesalahanku. Kalau kau menunjukkannya, aku kira aku akan
segera mengerti.”
Sekali lagi Temunggul menggeram. Namun ia berkata juga, “Kau
berpura-pura mandi dan mencuci pakaianmu Bramanti, tetapi agaknya kau sedang
menunggu gadis-gadis lewat. Agaknya sudah menjadi kebiasaanmu untuk
mengganggu gadis-gadis.”
Tuduhan itu serasa bara api yang menyengat telinga Bramanti. Kini ia
menyadari keadaan yang dihadapinya. Kini ia mengerti, apakah sebenarnya
yang dimaksud Temunggul. Agaknya meskipun tidak disebutkan, Temunggul
sangat berkeberatan atas pertemuannya dengan Ratri di tempat ini beberapa
waktu yang berlalu.
“Nah, apakah katamu sekarang?” desis Temunggul.
Bramanti tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Temunggul yang
telah menjadi merah, wajah kawan-kawannya yang tegang, dan ketika
diedarkannya pandangan matanya ke sekitarnya, dilihatnya satu dua orang sedang
bekerja di sawah.
Posted on December 4th, 2007 by bajingloncat
Filed under: Tanah warisan 273 Views





Leave a Reply