Tanah Warisan 144

03 Jan 2002 “Tidak ada kesempatan lagi bagimu Bramanti,” geram Temunggul.
“Kau harus menerima akibat. Selama ini kita berusaha melindungi gadis-gadis kita
dari tangan-tangan orang Panembahan Sekar Jagat,
ternyata kau sendiri akan melakukannya.”
“Temunggul,” jawab Bramanti, “Apakah kau pernah melihat aku
melakukannya seperti apa yang kau katakan?”

Pertanyaan itu agak membingungkan Temunggul. Namun kemudian ia menjawab
kasar, “Jangan banyak bicara. Kau harus ikut kami. Jangan mencoba
melakukan kebodohan.”

“Pakaianku masih basah,” Bramanti mencoba mencari dalih.

“Aku tidak peduli,” jawab Temunggul. “Kau harus ikut aku.”

“Kemana?”

“Jangan bertanya.”

Bramanti mengerutkan keningnya. Apakah ia harus menuruti kemauan
Temunggul, mengikutinya kemana ia pergi? Meskipun tidak pasti, namun Bramanti
dapat membayangkan apa yang akan terjadi atas dirinya.

“Cepat,” Temunggul hampir berteriak.

“Tetapi kainku?”

“Cepat ambil. Kemudian ikuti aku.”

Bramanti yang masih mencoba untuk tidak membuat keonaran tidak berusaha
membantah lagi. Ia pun kemudian turun ke tepian mengambil kainnya yang
basah dan melingkarkan kainnya yang kering di atas celananya yang
basah. Kemudian ia merangkak kembali naik ke tanggul.

“Ayo, ikuti kami.”

Bramanti tidak menjawab. Ia mengikuti saja langkah Temunggul, sedang
kawan-kawannya berjalan dibelakangnya.

Leave a Reply