Tanah WArisan 145

04 Jan 2002,  Dada Bramanti menjadi semakin berdebar-debar. Apalagi ketika Bramanti mengetahui kemana mereka berjalan.

Namun demikian ia masih bertanya,“Kemana kita, Temunggul?”
“Kau tahu, jalan ini akan sampai kemana? Kita menyusur parit itu,
kemudian berbelok ke kiri di atas jalan pematang.”

“Ke gerojokan di bawah bendungan?”

“Kau menebak tepat.”

Dada Bramanti berdesir tajam. Ia menyadari apa yang akan terjadi.
Gerojokan di bawah bendungan itu jarang sekali didatangi orang. Karena itu,
maka segera terbayang, Temunggul akan melepaskan kemarahannya itu tanpa
diganggu orang.

“Gila,” desis Bramanti. “Kalau aku menjadi gila pula, maka aku akan
mengalami kesulitan.”

Tetapi Bramanti tidak mendapat kesempatan untuk menolak. Ia harus
mengikuti langkah kaki Temunggul. Pergi ke bawah bendungan ke gerojogan.

Sejenak kemudian mereka pun telah meniti pematang yang akan sampai ke
tanggul sungai di sebelah gerojogan itu. Disisi tebing sungai itu agak
tinggi dan terjal, sehingga jarang sekali orang yang memerlukan turun,
apabila tidak mempunyai kepentingan apapun.

Semakin dekat dengan gerojogan, dada Bramanti menjadi semakin
berdebar-debar. Namun ia masih sempat mengendapkan perasaannya. Dan bahkan ia
selalu berkata di dalam hatinya, “Aku harus mengendalikan diri
sebaik-baiknya.”
Tetapi ketika mereka telah sampai di atas tanggul, Bramanti menjadi
ragu-ragu atas dirinya sendiri. Kalau ia tidak berhasil mengendalikan
perasaannya, maka akibatnya akan menghapuskan semua usaha yang pernah
dirintisnya. Karena itu, maka ketika ia telah berdiri di atas tanggul, ia
berhenti.

“Cepat kau turun Bramanti. Aku pun akan segera turun.”

Bramanti masih tetap berdiri diam.

“Cepat,” teriak Temunggul.

“Apa yang akan kalian lakukan atasku?” bertanya Bramanti.

“Itu bukan persoalanmu. Terserah kepada kami. Kau sudah melanggar
janjimu. Aku hanya akan sekadar memberi peringatan kepadamu. Berterima
kasihlah kau, bahwa aku masih berbaik hati, memberimu sekadar peringatan.
Ayo cepat.”

Bramanti masih tetap berdiri tegak.

“Jangan membuat aku semakin marah Bramanti. Cepat turun.”

Tiba-tiba Bramanti menggelengkan kepalanya. Gumamnya seakan-akan kepada
diri sendiri. “Aku tidak ingin turun.”

Leave a Reply