Tanah Warisan 146

Saturday, 05 Jan 2002, Bramanti tidak menyahut. Tetapi wajahnya menjadi tegang. Ketegangan yang tumbuh dari dalam dadanya.
“Satu, dua, tiga…..” setiap bilangan telah membuat dada Bramanti
semakin tegang. Dan bilangan itu pun semakin naik juga, “empat,….. lima.”

Bramanti masih tetap berdiri saja ditempatnya. Sehingga karena itu,
maka Temunggul pun telah kehilangan kesabarannya. Tebing itu memang cukup
dalam, tetapi Temunggul telah memperhitungkannya, apabila Bramanti
terjerumus, ia tidak akan mati karenanya. Karena itu, maka dikejapkannya
matanya kepada salah seorang kawannya.

Kawannya mengerti maksud Temunggul. Dengan serta merta ia meloncat
sambil menjulurkan tangannya ke arah Bramanti yang berdiri tepat di atas
tanggul.

Bramanti memang sudah menduga, bahwa Temunggul akan melakukannya,
meskipun ia meminjam tangan orang lain. Tetapi Bramanti sama sekali tidak
ingin jatuh terguling dan terbanting di tepian meskipun di alasi dengan
pasir. Tubuhnya pasti akan terluka oleh goresan batu-batu padas pada
lereng yang terjal.

Karena itu, hampir di luar sadarnya Bramanti berusaha untuk menghindari
hal itu.

Kawan Temunggul yang berusaha mendorong Bramanti, sama sekali tidak
melihat Bramanti bergerak. Karena itu, maka tanpa ragu-ragu lagi ia maju
beberapa langkah lagi dan dengan sekuat tenaganya ia berusaha melempar
Bramanti.

Tetapi orang itu sama sekali tidak mengetahui, bahwa Bramanti telah
membuat suatu perhitungan yang tepat. Kalau ia jatuh terdorong oleh
kekuatan orang lain, dan kemudian berguling ditebing itu, ia pasti akan
terluka. Karena itu, maka ketika tangan kawan Temunggul itu menyentuh
tubuhnya, Bramanti justru melemparkan dirinya sendiri meloncat ketepian di
bawah. Dengan demikian ia dapat mengatur dirinya dan sama sekali tidak
menyentuh batu-batu padas tebing sungai yang agak tinggi itu.

Namun hal itu sama sekali tidak diduga oleh kawan Temunggul yang
berusaha untuk mendorongnya, bahkan oleh Temunggul sendiri dan kawan-kawannya
yang lain. Dengan demikian, maka tenaganya sama sekali tidak menemukan
tahanan apapun. Maka, tanpa dapat menahan dirinya sendiri, orang
itupun terjerumus pula masuk ke dalam sungai. Karena ia sama sekali tidak
bersiap untuk mengalami hal serupa itu, maka tubuhnya itu pun terguling
di atas batu-batu padas tebing, untuk kemudian terbanting di atas pasir.

Melihat hal itu Temunggul dan kawan-kawannya yang lain terkejut bukan
kepalang. Namun justru sejenak mereka seakan-akan membeku ditempatnya.
Mereka melihat dengan mulut ternganga, Bramanti meloncat turun. Ketika
ia jatuh diatas kedua kakinya ia berhasil berdiri tegak tanpa mengalami
cidera apapun. Kemudian disusul oleh tubuh kawan Temunggul, yang jatuh
seperti seonggok tanah liat.

Sebelum Temunggul dapat berbuat sesuatu, ia masih melihat Bramanti
berlari-lari mendapatkan kawannya yang terjatuh itu. Kemudian menolongnya,
menyandarkan pada sebuah batu padas di tebing. Dengan kainnya ia
membersihkan wajah orang itu yang penuh dengan pasir dan tanah berlumpur.

“Gila kau Bramanti,” tiba-tiba Temunggul berteriak. Suara teriakan itu
telah mengejutkan Bramanti, sehingga orang yang sedang ditolongnya itu
dilepaskannya. Beberapa langkah ia menjauhi sambil memandang ke atas
tanggul.

Namun kemudian disadarinya, bahwa sebentar lagi Temunggul dan
kawan-kawannya yang lain pasti akan turun pula. Karena itu, maka daripada
terjadi keributan, lebih baik baginya untuk meninggalkan tempat itu.

Dengan demikian, maka Bramanti pun kemudian berlari meninggalkan orang
yang masih duduk dengan lemahnya bersandar sebongkah batu padas yang
berwarna kehijau-hijauan.

Dada Temunggul berdesir melihat Bramanti masih sempat melarikan
dirinya. Karena itu, dengan serta merta ia berteriak, “He, tangkap anak itu.
Jangan biarkan ia lari.”

Tetapi kawan Temunggul yang bersandar batu padas dibawah, sama sekali
sudah tidak berdaya. Apalagi menangkap Bramanti, sedang untuk
bernafaspun terasa betapa sukarnya.

Leave a Reply